Introspeksi Dalam Kajian Psikologi Agama
PENDAHULUAN
Ada sebuah ungkapan terkenal di kalangan orang-orang kerohanian, bahwa dalam diri manusia ada “ruang kosong” yang harus diisi dengan hal-hal yang baik. Jika kita tidak mengisi dengan hal-hal yang baik, maka ruang kosong itu, akan terisi dengan sesuatu yang buruk. Ruang kosong itu yang menjadikan manusia berarti secara spiritual. Ruang kosong itu dikenal dengan hati nurani atau suara hati.
Dalam Islam istilah suara hati sering menggunakan qalb, fu`âd, lûbb, sirr, `aql, yang semuanya berhubungan dengan pengertian kesadaran, atau biasa disebut "hati" (qalb) saja, dari kata qalaba yang berarti "membalik" dengan konotasi berpotensi bolak-balik: di suatu saat merasa senang, dan di saat lain merasa susah, di suatu saat menerima, di saat lain meolak. Hati seringkali tidak konsisten, sehingga dibutuhkanlah kekuatan yang tetap yaitu cahaya Ilahi (disebut "hati-nurani" --hati yang bercahaya).
Imam al-Ghazali --seorang teolog besar Muslim abad 12-- membahas masalah suara hati dalam salah satu bab husus dalam bukunya yang sangat populeh Ihya’ Ulum-i al-Din. Dalam buku tersebut, al-Ghazali menjelaskan “hati” sebagai acuan yang harus dikembangkan dalam pencapaian kehidupan rohani. Bahkan ia menafsirkan hati sebagai esensi dari kemanusiaan itu sendiri. Ia membandingkan hati dengan sebuah kaca yang mencerminkan segala sesuatu di sekelilingnya. Jika hati ada dalam situasi yang kacau, di mana akal-budi (`aql) yakni potensi yang dapat mengembangkan suara hati ini ditaklukkan dan tak dikenali, maka hati menjadi “mendung dan gelap” (artinya orang mengalami perasaan-perasaan negatif, akibatnya menjadi kurang cerdas secara emosi, yang biasa disebut "penyakit hati").
Sebaliknya jika keseimbangan yang benar ditegakkan, kaca hati tersebut akan mencerminkan kecemerlangan bidang rohani, dan dengan demikian terbukalah sifat-sifat langit, dan terpantullah akhlak Allah. Sesuai dengan Hadits Nabi, “Hiasilah dirimu dengan akhlak Allah”. Melalui dzikir kepada Allah, dan terhiasinya sifat-sifat positif dari akhlak-Nya, maka suara hati ini (kesadaran moral) pun mencapai apa yang dalam agama disebut “jiwa yang tenang” (nafs al-muthmainnah) yang membuka pintu bagi kedekatan kepada Allah. Sehingga hati menjadi tempat bagi ingatan akan Allah, akhirnya hati ini menjadi cahaya Allah.
• • ••
35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[1039], yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)[1040], yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Islam menyebut bahwa melalui hati inilah manusia menemukan kesadaran ketuhanannya --yang nantinya akan mempunyai segi konsekuensial pada kesadaran moral dan sosialnya. Kesadaran yang disebut ketakwaan ini tumbuh dalam hati; sebaliknya dosa dan kekafiran juga berkembang dalam hati. Dalam hati juga merupakan tempat menilai diri sendiri (introspeksi). Untuk memahami fungsi suara hati senbagai tempat introspeksi, kita perlu melihat terlebih dahulu konsep teologis Islam mengenai manusia dan kaitannya dengan pembinaan suara hati ini.
PANDANGAN TENTANG MANUSIA DAN PEMBINAAN HATINURANI
Islam menegaskan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Menurut Islam manusia dilahirkan dalam fitrah yang suci. Sehingga seorang bayi, hidup dalam alam paradiso (kalau mati langsung ke surga). Dalam perkembangan selanjutnya. --dalam istilah keagamaan-- karena kelemahannya sendiri, sang bayi yang tumbuh pelan-pelan menjadi dewasa ini lalu tergoda, karena tarikan kehidupan dunia, sehingga sedikit demi sedikit ia masuk ke alam inferno: “neraka dunia” (metafor untuk mereka yang menjauhi diri dari suara hatinya yang suci). Karena dosanya hatinya pun menjadi kotor. Kemudian dalam suatu keadaan yang disebut penyucian, seorang manusia dilatih kembali untuk lepas dari inferno-nya, dari neraka dirinya. Inilah proses ke alam porgatorio, alam pembersihan diri, dimana dari sini akan terbuka kembali alam kefitrahannya, yang pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam kefitrahan ini: keadaan suara hati sejati yang ada dalam kecemerlangannya. Sebenarnya fitrah ini bukanlah sesuatu yang didapatkan, tetapi sesuatu yang “ditemukan kembali” –itu sebabnya istilah yang dipakai (seperti misalnya dalam Idul Fitri) adalah “kembali ke fitrah” yang secara simbolik artinya adalah merayakan kembalinya diri kita ke alam paradiso –surga diri, alam kefitrahan manusia, "kembali kepada kecemerlangan suara hati"; asal dari penciptaannya. "Maka hadapkanlah wajahmu benar-benar kepada agama; menurut fitrah Allah yang atas pola itu Ia menciptakan manusia. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah, itulah agama yang baku; tetapi kebanyakan manusia tidak tahu."(Q.s.al-Rûm/30:30).
Lawan dari fitrah adalah dosa. Al-Qur'an menyebut orang yang berdosa sebagai zhâlim –yang sudah menjadi bahasa Indonesia, zalim, lalim-- dan sering diterjemahkan dengan arti aniaya. Secara harafiah, zhâlim artinya orang yang menjadi gelap. Dosa dalam bahasa Arab, zhulmun, kegelapan, artinya membuat hati yang gelap (suara hati yang tertutup). Kalau seseorang banyak berdosa, maka hati (suara hati)-nya tidak lagi bersifat nûrânîy (bersifat cahaya [bandingkan istulah bahasa Indonesia suara-hati [kata-hati] dengan hati-nurani ini, yang sama-sama sering dipakai sebagai terjemahan dari conscience]), tetapi sudah zhulmânîy.
Kata zhulmâni ini memang belum merasuk dalam bahasa Indonesia, padahal artinya sangat penting untuk disadari, sebagai lawan dari nurani (yang bercahaya itu), supaya kita tahu bahwa tidak semua orang itu mempunyai hati nurani atau suara hati. Hanya orang baik saja yang mempunyai hati nurani --hati yang bercahaya, suara hati; orang jahat hatinya tidak lagi nûrânîy, tapi sudah menjadi zhulmânîy, menjadi gelap, sehingga tidak lagi peka terhadap apa itu baik dan buruk, benar dan salah. Dalam keadaan gelap inilah (suara hati yang tidak lagi berfungsi) ada kesengsaraan, muncullah malapetaka kerohanian, akibat ketidaktahuan diri (ignorance). Orang yang berdosa adalah orang yang tidak mengenal dirinya, orang yang lupa akan dirinya. Orang yang membungkam suara hatinya,untuk menyenangkan hawa-nafsunya.
Ada Hadits "Barang siapa yang tahu dirinya, maka dia tahu Tuhannya". Hadits ini mengungkapkan bahwa ada orang yang tahu diri, dan ada orang yang lupa diri. Memang, tidak berarti bahwa tahu diri, berarti tahu Tuhan, tapi ini penting untuk suatu simbolisasi, tentang siapa diri kita ini, yang bisa kita kenal melalui introspeksi atau mawas diri (ihtisâb). Dengan itu kita akan mengalami peningkatan kualitas kemanusiaan kita sedemikian rupa, sehingga kita seolah-olah tahu Tuhan (yang dalam bahasa agama disebut ihsân). Dalam orang yang ihsân inilah ada kecemerlangan suara hati.
Konsep fitrah dalam Islam pada dasarnya menyangkut konsep tentang manusia yang utuh secara keagamaan: seseorang yang suara hatinya berfungsi secara optimum. Jika manusia merindukan fitrahnya --merindukan suara hati sejatinya-- maka sebenarnya ini adalah kerinduan manusia kepada “kesempurnaannya”. Agama menyebut, manusia akan utuh, apabila dia mencerminkan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya, apabila dia memenuhi perintah Allah. Sebaliknya, bagi orang yang lupa kepada Tuhan, maka dia tidak mungkin akan menjadi manusia yang utuh. Dia menjadi manusia yang “terpecah” dari akar primordialnya --kefitrahannya-- yang menjadikan suara hatinya pun tidak berfungsi.
Allah memperingatkan, "Dan janganlah kamu seperti mereka yang lupa kepada Allah, maka Allah membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri." Kalau manusia lupa kepada Allah, maka manusia akan lupa kepada diri sendiri (dengan mulai mengabaikan suara hatinya sendiri); dan akibatnya akan kehilangan makna dan tujuan hidup: kehilangan integritas kepribadiannya yang sebabnya adalah karena ketidakmauan manusia mengkaitkan dirinya pada wujud dengan wujud Yang Maha Tinggi, yaitu Allah s.w.t.
Maka manusia yang utuh, adalah manusia yang sanggup membina hubungan dengan Allah, dan ini adalah fitrah manusia. Fitrah adalah seluruh ajaran yang benar yang telah ditanamkan Allah ke dalam diri manusia. Tetapi walaupun manusia telah diberi fitrah –yang menjaga kemanusiaannya itu—manusia pada dasarnya lemah, artinya gampang sekali jatuh kepada dosa, yang dapat menjauhkannya dari kefitrahannya itu. Rumusan ajaran Islam mengenai ini adalah bahwa “Manusia itu pada dasarnya baik, tapi lemah,” Al-Qur’an menyebut, "Manusia diciptakan dalam keadaan lemah". Dan di antara banyak kelemahan manusia yang paling penting adalah pandangannya yang pendek, myopic, yang menjadikannya gampang menjauh dari kondisi fitrah, dan mudah tergelincir dari suara hatinya yang benar. Inilah awal mula tumbuhnya ego manusia.
EGO MANUSIA: TEMPAT DOSA DAN GANGGUAN KEJIWAAN
Diatas dikatakan, bagi manusia beragama, hati adalah tempat pertemuan antara Allah dan manusia (ini membenarkan pandangan bahwa "suara hati adalah suara Allah"). Tetapi dewasa ini, ego manusia --sebagaimana diekspresikan secara lebih penuh dalam kepribadian manusia-- telah mengganti hati yang dulu adalah tempat pertemuannya dengan Allah, sekarang menjadi tempat perjumpaan manusia dengan dirinya sendiri. Manusia menjumpai dirinya yang juga merupakan kaca refleksi baginya. Manusia, akibat egonya yang begitu berkembang, tetapi sekaligus menumpulkan hatinya, akhirnya menjadi tertutup dari Tuhan. Bahkan mengingkari perlunya relasi dengan Tuhan itu, untuk kebaikan dirinya.
"Ego tanpa iman" inilah yang melepas dan mengabaikan perjanjian sakral, perjanjian primordial manusia dengan Tuhannya untuk selalu ingat kepadanya: selalu mengikuti suara hatinya yang otentik. Kepercayaan sakral antara manusia yang tersimpan dalam jiwa primordialnya --dalam suara hatinya-- telah dirusak atau ditutupi oleh ego manusia, yang tidak lagi punya minat untuk melihat Allah lewat mata iman dan kepasrahan. Inilah yang menyebabkan mengapa ajaran Islam menekankan pentingnya iman dan kepasrahan (islâm dalam arti generik) dan kesaksian terhadap kebenaran (ihsân) . Tanpa benang kepercayaan sakral dalam dirinya --pengakuan akan adanya Tuhan-- manusia akan menderita. Bahkan bisa-bisa ia tidak memiliki kepercayaan terhadap manusia lain, bahkan pada saatnya kepada dirinya sendiri. Tanpa hubungan yang jelas dan terbuka yang mengarah ke dalam jiwa, dan selanjutnya melampaui jiwa ke arah ruh, manusia tidak akan memiliki cukup hasrat untuk menghubungkan dirinya dengan Diri yang lebih besar: sumber otentisitas dirinya, suarahatinya.
Lewat perhatiannya yang terlalu besar kepada ego, kelekatan manusia kepada Allah telah digantikan oleh kelekatan kepada dunia bentuk dan dunia kepemilikan. Manusia tidak lagi berupa sebuah buku terbuka yang menanti guratan Pena Ilah, untuk mengerti arti dan tujuan hidupnya --yang dapat disadari lewat kepekaan atas suara hatinya. Karena ia mengingkari pertemuannya dengan Penciptanya, dan karena itu mengingkari janji masa depan baginya di dunia akhirat. Ia menjadi sebuah sistem tertutup, yang telah ditentukan bukan oleh Allah, melainkan oleh gerakan aneh ego yang selalu berubah (ingat mengenai hati yang "bolak-balik" di atas). Kecerdasannya (sebagai makhluk yang berakal budi dan terarah kepada alam ruhani) telah direduksi menjadi hanya pencari fakta dan sekumpulan data. Adanya alam keruhanian termasuk suara hati ditolak sebagai ilusi.
Dengan dosanya manusia terperangkap dalam sekumpulan ilusi ini, yang diabadikan oleh ego yang senang mengabdi hanya pada diri sendiri, dan karenanya mereduksi jiwa percaya-diri dari orang-orang yang beriman, menjadi sekedar bayangan ego (ketimbang refleksi Ruh Ilahi). Ilusi ini berakar dari kepercayaan yang salah bahwa dirinya mampu merealisasi dan memfungsikan keberadaannya sendiri di dunia ini tanpa dukungan dan berkah Allah (tanpa perlu suara hatinya!). Ego menciptakan ilusi, dan ilusi memuaskan ego dalam mengabadikan lingkaran realitas palsu yang menantang Kebenaran primordial manusia yang tertanam dalam suara hatinya. Itu sebabnya, pada dasarnya iman tumbuh dalam hati, tetapi ego manusia bisa menyelewengkannya kepada keraguan, penyangkalan, kekafiran dan penyelewengan dari jalan yang lurus (shirâth al-mustaqîm).
TAKWA: JALAN MENYUCIKAN HATI
Kata takwa, seringkali karena sudah menjadi bahasa sehari-hari taken for granted, dianggap jelas artinya. Dan pada umumnya arti ketakwaan dihubungkan dengan rasa takut kepada Allah. Fenomenologi agama, menggambarkan pengertian takwa ini sebagai Misteri yang “menggetarkan” (tremendous). Allah menggetarkan hati manusia, karena Kemahakuasaannya. Banyak ayat dalam al-Qur’an yang menggambarkan mengenai kemahakuasaan Tuhan ini. Sadar akan kemahakuasaan Tuhan ini, manusia merendahkan diri untuk menaati segala perintahnya. Inilah yang sering dianggap sebagai manifestasi dari takwa itu.
Pengertian takwa seperti ini sebenarnya belumlah lengkap, karena terlalu menekankan aspek ketakutan dihadapan Allah. Dalam penafsiran yang sering diungkapkan oleh para fuqaha (ahli hukum agama), dalam arti ketakwaan merupakan kontrol yang paling efektif terhadap perbuatan dosa. Ketakwaan menjadi dasar moral. Tetapi para Sufi menganggap bahwa tingkat keberagamaan karena rasa takut itu, masih rendah, belum diolah dengan menumbuhkan perasaan-perasaan positif kepada Allah --misalnya lewat kedekatan seseorang dengan suara hatinya. Kedekatan kepada Allah terlalu dirasakan sebagai emosi takut. Para Sufi mempertanyakan, apakah ini adalah kedekatan? Kedekatan kepada Allah –taqarrub ila Allâh—tidak bisa dicapai lewat perasaan negatif, justru harus lewat perasaan positif. Lewat perasaan positif ini kedekatan itu bisa dirasakan secara luarbiasa. Perasaan positif inilah yang dirasakan jika seorang yang beriman mempunyai kontak otentik dengan suara hatinya.
Pada dasarnya, segala amalan-amalan dalam agama bertujuan untuk mendidik mereka yang beriman –yang menaruh percaya kepada Allah—agar memiliki pengalaman dan kesadaran Ketuhanan (bdk. Suara Allah adalah suara hati), dengan menanamkan kesadaran Ketuhanan itu sedalam-dalamnya, dalam kehidupan sehari-hari. Agama menyebut ini sebagai pengalaman dalam mencapai derajat ketakwaan. Kesadaran Ketuhanan ini begitu mendasar dalam agama apapun, sebab pengalaman inilah yang akan membimbing manusia ke arah kebajikan dan amal saleh, suara hatilah yang dapat membawa dan membimbing manusia kepada kebahagiaan.
Disebutkan dalam Kitab Suci al-Qur’ân, bahwa takwa –kesadaran Ketuhanan yang mendalam seperti digambarkan di atas-- merupakan asas bangunan kehidupan yang benar. Asas bangunan kehidupan selain takwa dalam istilah agama “bagaikan fondasi gedung di tepi jurang yang goyah, yang kemudian runtuh ke dalam neraka". Al-Qur’ân menguraikan soal ini, “Manakah yang terbaik? Mereka yang mendirikan bangunannya atas dasar takwa dan keridlaan Allah, ataukah yang mendirikan bangunannya di atas tanah pasir di tepi jurang lalu runtuh bersamanya ke dalam api neraka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka yang zalim” (Q.,s. al-Tawbah/9:109). Ayat ini menegaskan arti takwa dalam seluruh struktur agama Islam. Ada juga sebuah Hadîts Nabi, yang menggambarkan begitu menentukannya takwa ini, dikatakan, “Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti (moral yang) luhur”.
Terhadap ayat yang menggambarkan metafor takwa di atas--yang kedudukannya sangat prinsipil dalam agama Islam-- Abdullâh Yûsûf `Alî, salah satu mufasir terkemuka abad ini, memberi komentar, “…Orang yang membangun hidupnya atas dasar ketakwaan (yang berarti juga keikhlasan dan niat hati yang suci) dan harapannya hanya kepada keridlaan Allah, ia membangun di atas fondasi batu yang kuat, yang takkan pernah goyah. Kebalikannya dari orang yang membangun di tanah pasir di tepi jurang, yang tidak terlihat bawahnya yang sudah rapuh. Jurang dan fondasi-fondasi itu semua akan runtuh berkeping-keping bersama dia, dan dia tersungkur ke dalam api kesengsaraan, yang tak mungkin lagi dapat melepaskan diri.” Metafor ini menggambarkan bahwa orang jauh dari takwa, adalah orang yang jauh dari suarahatinya!
Di sini perkataan takwa memang diterjemahkan sinonim dengan "kesadaran Ketuhanan," yang aslinya dalam bahasa al-Qur’ân disebut "rabbânîyah" dan "ribbîyah". Kesadaran ketuhanan ini merupakan wujud terpenting dari nilai keagamaan --yang sudah seharusnya selalu menjadi dasar dari usaha-usaha apapun, yang mau menyajikan Islam sebagai sumber keinsyafan hidup misalnya lewat pembinaan suara hati. Dan di sinilah dalam konteks penyajian Islam sebagai sumber keinsyafan hidup itu --sumber moral dan suara hati-- al-Qur`an dinyatakan --oleh al-Qur’ân sendiri-- sebagai petunjuk bagi mereka yang bertakwa. “Inilah Kitab yang tiada diragukan; suatu petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Q.,s. al-Baqarah/2: 2. Lagi, Abdullâh Yusuf `Alî memberi komentar, terhadap ayat ini: bahwa al-taqwâ, serta kata-kata kerja dan kata-kata benda yang dikaitkan dengan akar kata ini, berarti (1). Takut kepada Allah –yang menurutnya, seperti dikatakan penulis Surat Amsal (1:7) dalam Perjanjian Lama, merupakan permulaan kearifan. [jalan kepada suara hati yang otentik]; (2). Menahan atau menjaga lidah, tangan dan hati dari segala kejahatan; (3) Ketaatan dan dan kelakuakn yang baik (Lihat Qur’ân, Terjemah dan Tafsirnya, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993 h.17 catatan 26).
INGAT KEPADA ALLAH
Dalam struktur agama Islam, salah satu usaha menumbuhkan dan menanamkan kesadaran Ketuhanan --dengan begitu menumbuhkan juga sekaligus kepekaan suara hati-- itu ialah lewat dzikir (dzikr), yaitu sikap selalu ingat kepada Tuhan. Kaum yang beriman yang berpikiran mendalam (ulû al-albâb) ialah mereka yang senantiasa berdzikir, bersikap selalu ingat kepada Allah, "pada saat berdiri, duduk atau terbaring, serta merenungkan kejadian langit dan bumi”. Al-Qur’ân sendiri menyebut ingat kepada Allah ini sebagai “amalan keagamaan yang paling agung” seperti dikatakan Q.,s. al-`Ankabût/29:45, yang akan membawa kepada pengalaman ketuhanan, rasa kehadiran: sumber moral (suara hati).
Bahwa Allah adalah Wujud Yang Maha Hadir ini –karena Dia Dekat dengan manusia--dijelaskan dalam Kitab Suci: "Dan bila para hamba-Ku bertanya kepada engkau (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah Maha Dekat. Aku menjawab seruan orang berseru, jika ia memang berseru kepada-Ku” (Q.,s. al-Baqarah/2: 186). Juga penegasan-penegasan lain dalam Kitab Suci seperti, "Dia beserta kamu sekalian di manapun kamu berada, dan Allah Maha Melihat segala sesuatu yang kamu kerjakan” (Q.,s. al-Hadîd/57:4); atau, "Milik Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadapkan wajahmu, di sanalah Wajah Allah,” (Q.s., al-Baqarah/2:115) "Kami (Allah) lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya” (Q.,s. Qâf/50:16), atau "Ketahuilah olehmu sekalian bahwa Allah menjadi dekat antara seseorang dengan hatinya sendiri (Q.,s.al-Anfâl/8:24).
Ayat-ayat tersebut sebenarnya menegaskan bahwa pada dasarnya manusia tidak dapat menghindar dari Hadirat Ilahi. Kesadaran akan Kehadiran Tuhan itu sesungguhnya merupakan inti hakikat kemanusiaan --kesadaran itu merupakan kelanjutan hakikat primordial manusia, fitrahnya, yaitu manusia sebagai makhluk dalam alam ruhani (yang tanpa ruang dan waktu) sebelum dilahirkan kedunia. Yaitu hakikat kemanusiaan yang telah mengikat perjanjian primordial dengan Tuhan, berwujud persaksian bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang boleh dan wajib disembah, yang adalah Rabb, Pelindung, Pemilik dan Penguasa. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari anak cucu Adam –dari punggung-punggung mereka—keturunan mereka dan dimintakan saksi atas mereka: ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar Kami bersaksi’ Demikianlah agar kamu (tidak) berkata pada hari kiamat: Sesungguhnya kami lupa akan hal itu.” (Q., s. al-A`râf/7:172).
Menarik sekali, bahwa dalam penafsiran tentang perjanjian primordial ini, akan menghubungkan kita kembali pada konsep fithrah, seperti digambarkan dalam ayat dari Q.,s. al-Rûm/30:30, “Maka hadapkan wajahmu kepada agama dengan penuh minat kepada kebenaran, sesuai dengan fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu…” Filsafat menyebutnya manusia-fitrah tersebut sebagai “makhluk teomorfis,” (makhluk yang mempunyai naluri ketuhanan) seperti dikemukakan di atas. Itu sebabnya dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk yang bersifat Ilahi (manusia citra Ilahi, insân kâmil), dalam arti bahwa ia adalah makhluk yang menurut tabiat dan alam hakikat primordialnya selalu mencari dan merindukan Tuhan: berkecenderungan kepada pencarian suara hatinya. Ini adalah fitrah atau kejadian asal sucinya, yaitu kecenderungan alami yang merupakan sifat dasar manusia untuk senantiasa merindukan, mencari, dan menemukan Tuhan. Agama Islam selalu mengacu ini sebagai hanif. Dan Kebenaran yang mengajarkan sikap tunduk kepada Tuhan (dîn) dan pasrah (islâm) kepada-Nya itu, merupakan kelanjutan fitrah yang hanif tersebut. Ibn ‘Abbâs --seorang sahabat Nabi--menuturkan bahwa Nabi s.a.w. ditanya, “Agama (dîn) mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al hanîfîyat al samhah)” (Hadîts, riwayat Imam Ahmad).
Konsep-konsep fundamental ini: fithrah, din, hanif, islam, dalam ajaran Islam, merupakan ajaran kearifan yang abadi, yang disebut sebagai philosophia perennis, atau hikmah khalidah –hikmah yang tak kunjung lekang oleh ruang maupun waktu: sebuah ajaran agama yang bersifat sangat universal, karenanya berlaku sepanjang zaman. Dan merupakan fondasi teoretis dalam pengembangan suara hati.
Setelah kita sedikit melihat mengenai dosa yang menjauhkan manusia dari suara hatinya. Berikut kita akan melihat lebih mendalam efek dari dosa yang merusak suara hati, setelah kita melihat mengenai ego manusia sebagai sumber pertama dosa manusia.
DOSA: MERUSAK HATI NURANI DAN MENIMBULKAN GANGGUAN KEJIWAAN
Seperti sudah dikatakan, awal dari hidup yang menjauh dari kefitrahan, adalah hidup dalam dosa yang dapat merusak suara hati, yang dapat diibaratkan seperti "asap gelap yang membumbung ke atas" pada cermin hati. Asap itu terus membumbung diatasnya hingga hati menjadi gelap dan hitam, sepenuhnya tertutup dari Tuhan. Sehingga manusia tidak lagi dapat mendengar suara Tuhan, sebagai suara hatinya. Tuhan menyebut penutupan ini sebagai "kerak". Tuhan berfirman, "…kebiasaan mereka itulah yang telah menimbulkan kerak dalam hati" (Q., s. al-Muthaffifîn/83: 14). Kerak inilah yang menutup hati manusia, akibat dosa-dosanya., "Kalau kami menghendaki, akan Kami siksa mereka dikarenakan dosa-dosanya, Kami tutup hatinya sehingga tidak lagi mereka mendengar pelajaran" (Q.,s. al-A`râf/7:100).
Jika dosa-dosa menumpuk, suara hati pun menjadi tertutup, selanjutnya hati menjadi negatif dan buta sehingga tidak dapat melihat yang nyata, juga tak bisa melihat kebenaran agama. Ia menganggap urusan akhirat dan keruhanian itu tidak penting, dan menekankan pentingnya urusan dunia ini ("hal-hal yang sementara"). Al-Qur'an menyebut, mereka adalah orang-orang "yang telah putus asa terhadap pahala-pahala akhirat, sebagaimana putus asanya orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur" (Q., s. al-Mumtahanah/60: 13).
Suara hati itu tertutup karena adanya "penghitaman hati" melalui dosa-dosa, sebagai mana sudah disebutkan. Maymûn ibn Mahrân berkata, (mengutip Nabi), "jika seseorang hamba melakukan suatu dosa, sebuah titik hitam muncul dalam hatinya. Jika dia bertobat menarik diri, dan mohon ampun, titik itu terhapus. Jika ia kembali, titik hitam itu bertambah hingga ia menutupihatinya. Itulah'keraknya'-nya."
Nabi berkata bahwa suara hati orang yang beriman itu terang, sebuah lampu bersinar di dalamnya (ingat ayat tentang cahaya di atas), sementara suara hati orang kafir itu “hitam dan bolak-balik”. Mematuhi Tuhan dan melawan nafsu akan membersihkan suara hati, sementara melakukan tindak-tindak pelanggaran akan menghitamkannya. Jika seseorang berpaling pada tindak-tindak pelanggaran, suara hatinya akan berubah menjadi hitam. Jika seseorang melakukan suatu perbuatan jahat, tetapi juga berbuat baik suara hatinya tidak menjadi gelap, namun cahayanya berkurang. Seperti sebuah kaca yang di hadapannya ada seseorang yang bernafas. Lalu dia menghapuskannya dan bernafas lagi. Lalu dia menghapuskannya lagi. Kaca itu tidak akan sepenuhnya bersih dari keburaman.
Itu sebabnya pengetahuan mengenai hati manusia--mengenai suara hati ini--merupakan kunci menuju pengetahuan tentang Tuhan. Maka benar: "suara hati, adalah suara Tuhan".
Al-Qur’an menggunakan istilah qalb untuk yang kita sebut suara hati ini sebanyak 132 kali. Makna dasar dari kata itu adalah membalik, kembali, pergi, maju, mundur, berubah, naik turun, mengalami perubahan. Al-Qur’an menggunakan istilah suara hati ini dengan menunjuk pada pentingnya dalam diri manusia, dalam menumbuhkan kesadaran moral. Sebab suara hati adalah tempat bersemainya kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan. Orang beriman maupun orang yang kafir sama-sama mempunyai suara hati. Al-Qur’an menggambarkan suara hati sebagai lokus dari apa yang membuat seseorang manusia menjadi manusiawi, pusat dari kepribadian manusia. Dan karena manusia terikat erat dengan Tuhan, maka hati ini merupakan tempat dimana mereka --seperti dikatakan di atas—dapat bertemuTuhan.
Pertemuan tersebut akhirnya mempunyai dimensi rasional, dan berimplikasi kepada penumbuhan moral atau budi pekerti luhur. Di sinilah kita perlu melihat apa yang bisa membuat suara hati itu cemerlang, dan apa yang membuat hati itu "menjadi gelap" --sehingga suara hatinya tidak lagi terdengar. Sekarang kita bicara mengenai nafs (jiwa manusia), sebagai teori Sufi yang berkaitan dengan penumbuhan atau penemuan kembali suara hati.
Salah satu cara untuk menjaga kesucian suara hati, adalah dengan menjaga diri dari hawa nafsu. Hawa nafsu berasal dari perkataan bahasa Arab, hawâ al-nafs, artinya keinginan diri sendiri. Dalam bahasa yang lebih kontemporer, keinginan diri sendiri ini dapat kita sebut sebagai kecenderungan-kecenderungan subjektif-egoistis. Karena itu hawâ al-nafs- lebih dekat dengan arti vested interest. Sehingga menyatu dengan kepentingan manusia, keinginan diri sendiri dan sering tidak bisa dilihat secara objektif benar-salahnya. Bahkan manusia lebih sering menganggap apa yang diinginkan itu pasti benar. Di sinilah muncul persoalan hawa nafsu, yang dalam kerendahkannya --dalam arti moral-- sangat merusak kepekaan suara hati dalam melihat yang benar dan salah.
Dalam al-Qur'an surat Yûsûf dikatakan bahwa nafsu pada dasarnya mendorong kepada keburukan. Di situ terdapat istilah al-nafs-u al-`ammârah, yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah nafsu amarah. Tetapi, seperti dijelaskan dalam lanjutan ayat tersebut, "... kecuali nafsu yang dirahmati oleh Tuhanku". Jadi nafsu sebetulnya bisa juga mendorong kepada kebaikan kalau mendapat rahmat dari Allah. Di sini nafsu berperan sebagai sumber motivasi, sumber dorongan kepada penemuan kembali suara hati, kondisi primordial manusia yang fitrah. Ia mempunyai nilai positif, karena mendapatkan rahmat dari Allah s.w.t. Indikasinya adalah orang bernafsu untuk melakukan sesuatu yang baik, yang menuju ridla Allah. Orang yang berjuang (mujâhadah)kepada jalan yang benar : mencari suara hatinya
Kalau orang itu tidak mendapat rahmat dari Allah, maka nafsunya akan membuatnya buta, tidak tahu lagi baik dan buruk, benar dan salah. Suara hatinya tertutup. Mereka kehilangan kepekaan suara hati (nurani), dan menggantinya dengan menuhankan hawa nafsunya (awal dari sikap tiranik, yang muncul dari penuhanan hawa-nafsu/vested-interest). Karena itu Allah berfirman, "Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, sebab itu menyimpangkan kamu dari jalan Allah." Jadi ada korelasi antara hawa nafsu dengan jauh dari jalan Allah --jauh dari suara hati. Sebab, setiap orang mempunyai potensi --yang bisa disebut bertindak tiranik-- yaitu ketika dia melihat dirinya cukup, tidak perlu orang lain. Setiap orang punya potensi untuk menganut gaya hidup egoistis-individualistis; kehilangan kesadaran sosial. Tetapi, orang yang beriman tidak akan bertindak tiranik. Ia pasti melihat semua manusia sama, semua manusia punya hak dan kewajiban yang sama, serta tidak ada nafsu untuk memaksakan diri.
Kemudian, dalam surat al-Qiyâmah, ada istilah al-nafs-u al-lawwâmah, yakni nafsu yang sudah mengalami proses introspeksi. Kata lawwâmah sebetulnya berarti "banyak mencela" tapi di sini maksudnya adalah mencela diri sendiri. Jadi nafsu lawwâmah adalah gambaran dari orang yang sudah sedemikian intensnya melakukan introspeksi sehingga ia selalu mencari kesalahannya sendiri. Ia mencari otentisitas suara hatinya: Ia mencari suara Tuhan dalam dirinya. Orang boleh bertingkah laku tidak peduli misalnya terhadap lingkungan, terhadap aturan, terhadap nilai-nilai yang baik, tapi sebetulnya hatinya menentang. Artinya orang itu tahu bahwa perbuatannya itu tidak benar, dan pengetahuannya itulah permulaan dari lawwâmah. Dan di sinilah perlunya ihtisâb menghitung diri sendiri sebelum dihitung oleh Tuhan di akhirat nanti. Sebuah Hadits mengatakan,"Hitunglah dirimu sendiri, sebelum kamu dihitung."
Jadi penyebutan al-nafs-u al-lawwâmah itu adalah dalam kaitannya dengan semangat introspeksi, semangat ihtisab: Bagaimana akhir hidup ini? Apa tujuan hidup? Apa yang harus seorang manusia kerjakan? Apa benar semua pekerjaan ini sudah benar, sudah baik? Kalau seseorang jujur sendirian dalam momen-momen keheningan, ia akan merasa bahwa ia tidak benar dan penuh kekurangan. Dan di situlah seseorang mulai melakukan introspeksi. Sehingga suara hati mulai terbuka. Kita mulai bisa sedikit mendengar suara Tuhan.
Setelah melalui proses introspeksi itu, dengan asumsi bahwa seseorang betul-betul konsisten dengan pertumbuhannya, maka sampailah kita kepada al-nafs-u al-muthma'innah, nafsu atau jiwa yang tenang. Istilah ini diambil dari firman Allah, "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati ridla dan diridlai, dan masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku". Inilah puncak dari kebahagiaan sesungguhnya.
HATI NURANI DAN JALAN KEBENARAN
Dalam ilmu agama-agama, dilukiskan bahwa setiap agama menjelaskan dirinya sebagai “jalan” kepada Kebenaran, jalan kepada Tuhan. Jalan kepada suara hati. Semua ritus, simbol dan ajaran keagamaan adalah ekspresi untuk jalan ini. Begitu pula dalam Islam. Ada beberapa istilah al-Qur’an yang dipakai untuk jalan ini, misalnya shirâth, sabîl, syarî`ah, tharîqah (tarekat), minhâj (metodologi, cara), mansak atau manâsik (jamak), dan maslak atau sulûk. Semuanya berarti jalan, cara, metode dan semacamnya. Karena agama itu esensinya berarti jalan, maka beragama haruslah dinamis. Kalau ada sesuatu yang berhenti dijalan, itu menyalahi sifat jalan itu sendiri.
Atas dasar alasan inilah, maka agama tidak mengajarkan bagaimana cara sampai kepada Tuhan: bagaimana mengetahui Tuhan, tetapi justru bagaimana mendekati Tuhan (taqarrub ila Allâh). Itu sebabnya dalam menempuh perjalanan keagamaan, seseorang akan mempunyai pengalaman yang bermacam-macam, yang berbeda-beda. Begitu juga dengan pergumulan macam-macam orang dari berbagai agama dengan suara hatinya.
Setiap orang mempunyai cara untuk mendekati Tuhannya--begitu juga untuk mencari dan menemukan kembali suara hatinya. Cara inilah yang disebut idiom dalam beragama. Setiap orang mempunyai idiomnya sendiri-sendiri sesuai dengan pengalamannya masing-masing, yang banyak sekali macamnya. Pada dasarnya Tuhan itu Maha Hadir (Omnipresence) dalam seluruh alam semesta ini, termasuk dalam diri manusia. Alam itu sendiri, berasal dari bahasa Arab, `alamat-un, yang artinya adalah “tanda”. Alam adalah tanda dari Tuhan –the sign of God. Karena itu semua yang ada adalah pertanda dari Allah, bahkan tajalli atau penampakan diri dari Allah. Al-Qur’an menggambarkan, sebagaimana sudah dikatakan di atas, “Kemanapun kamu hadapkan wajahmu, di situ ada wajah Tuhan” Jika seseorang menyadari Tuhan, maka ia akan menyadari kehadiran Tuhan itu dalam hidup sehari-hari. Menyadari Tuhan berarti peka terhadap suara hati kita sendiri.
Dari apa yang dikatakan di atas, kita simpulkan bahwa ttakwa adalah puncak dan tujuan dari hidup beragama; maksudnya bahwa tujuan beragama adalah agar manusia menyadari bahwa suara hatinya perlu dihidupkan (kembali) dengan kehadiran Tuhan. Apalagi ini adalah sesuatu yang fitrah bagi manusia. Semua agama, menjadikan persoalan ini sebagai inti dari keberagamaan. Dalam Islam ada yang disebut pesan dasar agama (risalah asasiyyah), sebagaimana Hadits Nabi, al-dîn-u nashihah, agama itu adalah nasihat atau pesan. Pesan dasar agama adalah pesan untuk bertakwa, pesan untuk menghadirkan (kembali) dalam jiwa manusia (dalam suara hatinya) adanya Tuhan itu, yang kehadiran itu dapat dirasakan dalam hati. Dan pesan ini begitu universal, sehingga bisa kita temukan dalam setiap agama.
Dalam Islam takwa adalah dasar kemanusiaan. Dalam bahasa teknis: semua bentuk habl-un min al-nâs (hubungan horizontal sesama manusia) dasar moralitas sosial dalam Islam harus didasari oleh habl-un min Allâh (hubungan vertikal dengan Allah). Al-Qur’an menggambarkan bahwa takwa sebagai kriteria paling obyektif untuk dasar hubungan antar individu, suku, bangsa, ras dan agama. Takwa mendorong untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (Q.s.,al-Baqarah/2:148).
Jika ada trilogi ajaran Islam yang sudah dikemukakan di atas–yang merupakan visi dasar agama ini—yaitu islâm, îmân dan ihsân, (jika dibaca sebagai tangga keberagamaan: dari sikap pasrah [islâm], kepada menaruh kepercayaan pada Tuhan [iman, suatu sikap in God we trust, kepada Tuhan kita menaruh percaya]) maka ihsân (pengalaman menyadari kehadiran Tuhan) itu adalah puncaknya. Dan pengalaman keihsanan inilah wujud dalam bentuk yang disebut takwa itu, yang bisa kita katakan sebagai dasar menemukan kemurnian suara hati.
Beberapa poin kesimpulan: Islam meneguhkan bahwa setiap manusia mengetahui yang baik dan yang buruk melalui suara hatinya dan fitrahnya. Ada sebagian orang yang memperhatikan seruan suara hatinya, sehingga mereka berbahagia, dan ada sebagian orang yang tidak memperhatikannya, sehingga mereka celaka. "Sesungguhnya beruntung orang-orang yang menyucikan [suara hati]-nya, dan sungguh merugi orang-orang yang mengotorinya (Q., s. al-Syams/91: 9-10).
DAFTAR PUSTAKA
Al Musawi, Khalil, “Bagaimana Membangun Kepribadian Anda,” Penj Ahmad Subandi (Jakarta : Lentera Basritama: 2001)
Ibrahim, Zakaria “Spikologi Wanita” Penj. Ghazeti Salom (Bandung :Pustaka Hidayah: 2005)
Khumaini,Imam “Memupuk Keluhuran Budi Pekerti” Penj. Musa Kazhim (Jakarta: Misbah : 2004)
Adjeh,Abue Bakar. “Pengantar Ilmu Tarekat (Uraian Tentang Mistik)” (Solo: Ramadhani: 1985)
Attaki, Hanan “Meditasi Al-Qur’an” (Bandung: Attakie :2008)
Safaria, Triantoro dan Kunjana Rahardi “Menjadi Pribadi Berprestasi” (Jakarta: Grasindo: 2006)
Kattsoff, Louis O “Pengantar Filsafat” Penj. Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana: 1992)
Sariati,Ali “Humanisme Antara Islam dan Madzab Barat” Penj. Afif Muhammad (Bandung: Pustaka Hidayah:1992)
Rahmad, Jalaludin :”Reformasi Sufistik” (Bandung: Pustaka HIdayah: 1999)

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda