Senin, 15 September 2008

Agama dan Konflik Sosial


A. Manusia adalah makhluk beragama.
Menurut para ilmuwan bahwa manusia adalah mahluk beragama. Tetapi mereka mempunyai batasan-batasan tersendiri mengenai definisi term agama tersebut. Menurut Hendropuspito, agama adalah suatu jenis system social yang dibuat oleh penganut penganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan nonempiris yang dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi mereka.
Dalam kamus sosiologi pengertian agama ada 3 macam, yaitu (1) kepercayaan pada hal- hal yang spiritual; (2) Perangkat kepercayaan dan praktik–praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri; dan (3) Ideologi mengenai hal- hal yang bersifat supranatural. Sementara itu, Thomas F.O'Deo mengatakan bahwa agama adalah pendayagunaan sarana-sarana supra empiris untuk maksud-maksud nonempiris atau supra empiris.
Dari beberapa definisi diatas, jelas tergambar bahwa agama merupakan suatu hal yang dijadikan sandaran penganutnya. Karena sifatnya yang supra natural sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang non empiris. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikatakan bahwa agama adalah ajaran, system yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Selanjutnya dalam buku yang sama, dikatakan bahwa konflik yaitu percekcokan; perselisihan-prselisihan; pertentangan. Jika kata ini digabung dengan term sosial menjadi suatu pertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan. Menurut teori konflik, masyarakat adalah suatu keadaan konflik yang berkesinambungan diantara kelompok dan kelas serta berkecenderungan kearah perselisihan, ketegangan, dan perubahan. Jadi masyarakat (sosial) merupakan lahan yang subur bagi tumbuhnya konflik. Bibitnya bisa bermacam-macam factor : ekonomi, politik, sosial, bahkan agama.

B. Sumber Utama Konflik Sosial
Di dalam Al-Qur'an surat Yusuf ayat 5 dijelaskan bahwa di dalam diri manusia terdapat kekuatan-kekuatan yang selalu berusaha menarik dirinya untuk menyimpang dari nilai-nilai dan norma ilahi. Dengan kata lain, sebagai perusak, hal ini bisa berbentuk kerusuhan, demonstrasi dan sebagainya yang semuanya diakibatkan oleh tangan manusia. Jadi, yang menjadi sumber utama terjadi konflik adalah masyarakat atau pemeluk agama, bukan pada agama atau ajarannya.
Penganut agama adalah orang yang meyakini dan mempercayai suatu ajaran agama. Keyakinannya akan melahirkan bentuk perbuatan baik dan buruk. Keyakinan ini bisa dimiliki oleh mereka, setelah melalui proses memahami dan mempelajari ajaran agama tersebut. Oleh karena itu, setiap pemeluk agama akan mempunyai kadar interpretasi yang beragam dalam memahami ajaran agamanya sesuai dengan kemampuannya masing- masing. Akibat perbedaan pemahaman ini, konflik sudah tidak bisa dihindari. Misalnya konflik antar mazhab.

C. Faktor-faktor Konflik Sosial Ditinjau dari Aspek Agama
Setiap agama selalu membawa misi kedamaian dan keselarasan hidup, bukan saja antar manusia, tetapi juga antar sesama makhluk Tuhan. Di dalam terminologi Al-Qur'an, misi suci ini disebut rahmah lil alamin (rahmat dan kedamaian bagi alam semesta). Namun dalam tataran historisnya misi agama tidak selalu artikulatif. Selain sebagai alat pemersatu sosial, agamapun menjadi unsur konflik tulisan Afif Muhammad dijelaskan bahwa, "agama acapkali menampakkan diri sebagai sesuatu yang berwajah ganda" Hal ini sama dengan pendapat Johan Efendi yang menyatakan "Bahwa agama pada suatu waktu memproklamirkan perdamaian, jalan menuju keselamatan, persatuan, dan persaudaraan. Namun, pada waktu yang lain menampilkan dirinya sebagai sesuatu yang dianggap garang dan menyebar konflik. Bahkan tidak jarang dicatat dalam sejarah menimbulkan peperangan. Konflik sosial yang berbau agama bias disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :

1. Adanya Klaim Kebenaran (TruthClaim)

Setiap agama punya kebenaran. Keyakinan tentang yang benar itu didasarkan pada Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Pluralitas manusia menyebabkan wajah kebenaran itu tampil beda ketika akan dimaknakan. Sebab perbedaan ini tidak dapat dilepaskan begitu saja dari berbagai referensi dan latar belakang orang yang meyakininya. Mereka mengklaim telah memahami, memiliki, bahkan menjalankan secara murni dan konsekuen nilai-nilai suci itu.
Keyakinan tersebut akan berubah menjadi suatu pemaksaan konsep-konsep gerakannya kepada manusia lain yang berbeda keyakinan dan pemahaman dengan mereka. Armahedi Mazhar menyebutkan bahwa absolutisme, eksklusivisme, fanatisme, ekstremisme dan agresivisme adalah penyakit-penyakit yang biasanya menghinggapi aktivis gerakan keagamaan. Absolutisme adalah kesombongan intelektual, eksklusivisme adalah kesombongan sosial, fanatisme adalah kesombongan emosional, ekstremisme adalah berlebih-lebihan dalam bersikap dan agresivisme adalah berlebih-lebihan dalam melakukan tindakan fisik.
Dalam ajaran atau doktrin agama, terdapat seruan untuk menuju keselamatan yang dibarengi dengan kewajiban mengajak orang lain menuju keselamatan tersebut. Kegiatan ini biasa disebut dengan istilah "dakiyah". Dakiyah merupakan upaya mensosialisasikan (mengajak, merayu) ajaran agama. Bahkan tidak menutup kemungkinan, masing-masing agama akan menjastifikasi bahwa agamalah yang paling benar. Jika kepentingan ini lebih di utamakan, masing-masing agama akan berhadapan dalam menegakkan hak kebenarannya. Ini akan memunculkan sentimen agama, sehingga benturan pun sulit dihindari. Fenomena yang seperti inilah yang dapat melahirkan konflik antar agama. Misalnya, peristiwa Perang Salib antara umat Islam dan umat Kristen. Tragedi ini sangat kuat muatan agamanya, dari pada politisnya.

2. Adanya Pengkaburan Persepsi antar Wilayah Agama dan Suku

Mayoritas rakyat Indonesia lebih mensejajarkan persoalan agama dengan suku dan ras. Pemahaman yang kabur ini bisa menimbulkan kerawanan atau kepekaan yang sangat tinggi, sehingga muncul benih-benih sektarianisme. Seperti dalam kasus Dr. AM Saefuddin, yakni Menteri Negara Pangan dan Holtikultura pada masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie. Menteri itu telah melecehkan salah satu agama, dalam pernyataannya "Megawati Pindah Agama menjadi Agama Hindu". Hal ini dikarenakan dia telah menyaksikan seseorang yang beragama Islam (Megawati) ikut melakukan kegiatan ritual pada agama Hindu di Bali. Akibatnya, setelah pernyataan itu dilontarkan terjadi sejumlah demonstrasi, bahkan berubah menjadi kerusuhan.

3. Adanya Doktrin Jihad dan Kurangnya Sikap Toleran dalam Kehidupan Beragama

Seorang agamawan sering kali mencela sikap sempit dan tidak toleran pada orang lain yang ingin menganiayanya, pada hal disisi lain mereka sendiri mempertahankan hak dengan cara memaksa dan menyerang orang yang mereka anggap menyimpang. Bahkan, mereka menganggap membunuh orang yang menyimpang itu sebagai kewajiban (Jihad). Jika berada dalam agama ketiga, diluar kedua agama yang sedang bertikai, kita akan tersenyum mengejeknya, karena mereka saling menghancurkan, yang dalam persepsi kita bahwa agama yang bertikai tersebut sama-sama palsu. Tetapi lain lagi ceritanya, jika yang perang adalah agama kita dengan agama lainnya. Dengan sendirinya, perang itu akan menjadi sebuah perjuangan untuk melawan dan menghancurkan kepalsuan. Bahkan kita akan meyakini adanya unsur kesucian dalam perang itu, sehingga mati di dalamnya di anggap kehormatan yang besar sebagai syahid/martir.
Hanya saja kita harus paham bahwa mereka yang ada dipihak lawan agama kita juga berpendapat sama seperti itu, dan mereka yang berada dipihak ke tiga (tidak berperang), dan memandang perang kita sebagai usaha saling menghancurkan antara dia kepalsuan. Semua orang di dunia ini sepakat bahwa agama selalu mengajak kepada kebaikan. Tetapi ketika seseorang semakin yakin dengan agamanya, maka "orang baik" itu justru semakin kuat membenarkan dirinya untuk tidak toleran kapada orang lain, bahkan mereka berhak mengejar-ngejar orang yang tidak sepaham dengan dirinya. Jadi, merekalah yang sebenarnya menjadi sumber kebenaran.

4. Minimnya Pemahaman terhadap Ideologi Pluralisme

Al-Qur'an (Q.S. 2 : 148) mengakui bahwa masyarakat terdiri atas berbagai macam komunitas yang memiliki orientasi kehidupan sendiri-sendiri. Manusia harus menerima keragaman budaya dan agama dengan memberikan toleransi kepada masing-masing komunitas dalam menjalankan ibadahnya. Oleh karena itu, kecurigaan tentang sifat Islam yang anti plural dan suka kekerasan itu sangatlah tidak beralasan.
Pluralisme telah diteladankan oleh Rasulallah SAW, ketika beliau berada di Madinah, masyarakat non-Muslim tidak pernah dipaksa untuk mengikuti agamanya. Bahkan dalam perjanjian dengan penduduk Madinah ditetapkan dasar-dasar toleransi demi terwujudnya perdamaian dan kerukunan. Salah satunya " Orang Yahudi yang turut dalam perjanjian dengan kami berhak memperoleh pertolongan dan perlindungan; tidak akan diperlukan zalim. Jika di antara mereka berbuat zalim, itu hanya akan mencelakakan dirinya dan keluarganya.
Bukti-bukti empiris pluralisme Islam juga terjadi dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik yang konkrit di Andalusia, Spanyol, pada masa pemerintahan Khalifah Umawi. Kedatangan Islam di daerah tersebut telah mengakhiri politik monoreligi secara paksa oleh penguasa sebelumnya. Pemerintah Islam yang kemudian berkuasa selama 500 tahun telah menciptakan masyarakat Spanyol yang pluralistic, sebab ada tiga agama di dalamnya yang berkembang, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Mereka dapat hidup saling berdampingan dan rukun. Potret seperti inilah yang perlu dikembangakan oleh seluruh agama, sehingga
akan mampu menahan diri dari hasrat alami manusia, yakni kehendak untuk berkuasa (Will to Power). Selain itu, manusia harus mampu mempelakukan agama sebagai sumber etika dalam berinteraksi, baik di antara sesama penguasa maupun antara penguasa dengan rakyat. Jika etika pluralisme ini dapat ditegakkan, maka tidak akan terjadi rangkaian kerusuhan, pertikaian dan perusakan tempat-tempat ibadah.

D. Strategi Untuk Menguasai Konflik Sosial Agama

1. Adanya Pengkajian Ulang Terhadap Konsep Kerukunan Antar Umat Beragam Serta Realisasinya

Konsep kerukunan antar umat beragama pernah dirumuskan dan ditetapkan oleh pemerintah Orde Baru dengan melibatkan semua tokoh agama-agama yang ada, terutama di Indonesia. Mungkin orang akan mengira bahwa itu merupakan keberhasilan menerapkan konsep kerukunan antar umat beragama yang selama ini diterapkan pemerintah.Hugh Goddard, seorang Kristiani, Inggris, yang ahli teologi Islam, mempunyai cara untuk memupuk kerukunan antar umat beragama, yakni harus di hindari penggunaan "standar ganda" (double standars). Orang-orang Kristen ataupun Islam misalnya, selalu menerapkan standar-standar yang berbeda untuk dirinya ; biasanya bersifat ideal dan normatif. Sedangkan terhadap agama lain, mereka memakai standar lain yang bersifat realistis dan historis. Melalui standar ganda inilah, muncul prasangka-prasangka teologis yang selanjutnya memperkeruh hubungan antar umat beragama.

2. Reinterpretasi Pesan-pesan Agama

Demi terciptanya hubungan internal agama, diperlukan reinterpretasi pesan-pesan agama yang lebih menyentuh kemampuan yang universal. Dalam hal ini peran tokoh agama (ulama) harus lebih di kedepankan. Misalnya, dalil-dalil yang ada dalam Al-Qur'an harus bisa dikontekstualisasikan agar lebih berfungsi. Ulama diharapkan berperan langsung dalam melakukan pencerahan kepada mesyarakat melalui upaya ini. Sehingga ajaran-ajaran keadialan, toleransi, dan cinta kasih menjadi implementatif dan integrative dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Selain itu, agama tidak boleh hanyut dan tenggelam dalam politik, begitu juga, politik tidak boleh mem.peralat agama. Fungsi interpretasi dan fungsi etis hanya mungkin dijalankan kalau agama dan politik tidak dicampuradukkan.

3. Dialog Antar Agama

Agar komunikatif dan terhindar dari perdebatan teologi antar pemeluk (tokoh) agama, maka pesan-pesan yang sudah direinterpretasi selaras dengan universalitas kemanusiaan menjadi modal terciptanya dialog yang harmonis. Jika tidak, proses dialog akan berisis perdebatan dan adu argumentasi antara berbagai pemeluk agama sehingga ada yang menang dan ada yang kalah. Perhatian terhadap tema ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab semua komponen bangsa, terutama tokoh agama.
Menurut Ignas Kleden, dialog antar umat beragama hanya bisa dimulai dengan adanya keterbukaan sebuah agama terhadap agama lainnya. Keterbukaan ini bisa dilihat dari beberapa sisi, yakni ; Pertama, segi-segi mana dari suatu agama yang memungkinkannya terbuka terhadap agama lainnya, pada tingkat mana keterbukaan itu dapat di tolerir dan juga dalam modus yang bagaimana keterbukaan itu dapat dilaksanakan. Kedua, bagaimana agama menjadi jalan dan sebab seseorang atau kelompok orang terbuka pada kelompok orang yang beragam lain. Jadi, persoalan keagamaan yang sering muncul terletak pada problem penafsiran, bukan pada benar tidaknya agama dan wahyu Tuhan itu.

4. Adanya pemahaman Agama dalam Arti Luas

Nabi Muhammad SAW Menyatakan bahwa sebaik-baiknya agama Allah adalah al-hanifiyyah al-sumhah ; semangat kebenaran yang lapang dan terbuka ; agama yang bersemangat kebenaran dan lapang serta terbuka untuk menolong manusia. Dengan semangat yang seperti itu, kita tidak akan terjebak pada pemahaman agama yang sempit.

5. Menonjolkan segi-segi persamaan dalam agama ; tidak memperdebatkan segi-segi perbedaan dalam agama

6. Melakukan kegiatan sosial yang melibatkan para pemeluk agama yang berbeda

7. Mengubah orientasi pendidikan agama yang menekankan aspek fiqhiyah menjadi pendidikan agama yang berorientasi pada pengembangan aspek universal-rabbaniyyah.

8. Meningkatkan pembinaan individu yang mengarah pada terbentuknya pribadi yang memilki budi pekerti yang luhur dan akhlakulkarimah.

9. Menghindari jauh-jauh sikap egoisme dalam beragama sehingga mengklaim diri yang paling benar.

Referensi Tulisan

Abdul Hisyam, Islam Dan Dialog Kemanusiaan Menyimak Metode Studi Agama Wilfred Cantwell Smith, Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Quran Vol. III, No. 2, Jakarta: LSAF Tahun 1992.
Alwi Shihab, Islam Inklusif "Menuju Sikap Terbukadalam Beragama, Cet. III, Bandung: Mizan, 1998.
Amin Abdullah, Pluralisme dan Pendidikan Tinjauan Materi dan Metodologi Pengajaran Kalam dan Teologi dalan era Kemajemukan di Indonesia. Makalah disampaikan pada Seminar "Pluralisme: Dialog dan KonfliK", kerjasama Interfidei, DIAN dan The Asia Foudation, di Makassar tanggal 21 Agustus 1999.
Arnold J. Toynbee, Menyelamatkan Hari Depan Umat Manusia, Cet. I, Yogyakarta: Gajah Mada Press, 1988.
Budy Munawar Rahman, dalam Komaruddin Hidayat dan Muh. Wahyuni Nafis (ed.), "Agama dan Masa Depan: Perspektif Filsafat Perenial", Cet. I, Jakarta: Paramadina, 1995.
Budy Munawar Rahman, Membangun Sebuah Teologi Agama-Agama Tarik Menarik Sikap Pluralitas Versus Sikap Ekslusif. Makalah disampaikan pada Seminar "Pluralisme: Dialog dan KonfliK", kerjasama Interfidei, DIAN dan The Asia Foudation, di Makassar tanggal 21 Agustus 1999.
Hasan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi I. Cet. II, Jakarta: Puataka Firdaus, 1997.
Nurcholish Madjid, Islam Doktri dan Peradaban Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Kemanusiaan dan Kemoderenan. Cet. II, Jakarta: Paramadina, 1992.
Nurcholish Madjid, "Renungan Tentang Kehidupan Keagamaan Untuk Generasi Mendatang". Jurnal Ulumul Quran Vol. IV, No. 1, Jakarta: LSAF, 1992.
Nurcholish Madjid, Masyarakat Religius Membumikan Nilai-Nilai Islam Dalam Kehidupan Masyarakat, Cet. II, Jakarta: Paramadina, 2000.
Nurcholish Madjid, dalam Rark R. Woodward, Jalan Baru Islam Memetakkan Paradigma Mutaakhir Islam Indinesia, Cet. I Bandung: Mizan, 1988.

Label:

Kamis, 11 September 2008

Tuhan Berfilsafat?

Oleh: Muhsin Labib
Apakah ayat-ayat Al-Qur’an dapat diperlakukan sebagai premis-premis dan teks-teks semata yang harus tunduk pada standar validitas dalam logika? Apakah Al-Qur’an menganjurkan kita untuk ‘percaya bahwa’? Apakah Al-Qur’an memuat argumentasi tentang keberadaan Tuhan, Sang kausa Prima ataukah tidak?
Ada beberapa pendapat dan jawaban atas pertanyaan di atas. Pertama, bahwa dalam Al-Qur’an tidak terdapat ayat yang memuat argumentasi rasional akan keberadaan Tuhan karena keberadaan-Nya sangat jelas dan fitri. Kedua, meski keberadaan Tuhan bersifat fitri, namun terdapat beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskannya.Muthahhari berkata: “Jika kita keberatan untuk mengakui bahwa keyakinan akan keberadaan Tuhan merupakan bagian lainnya dari fitrah atau naluri, maka paling tidak kita harus mengakui bahwa kekhawatiran akan keberadaan Tuhan dan pertanyaan tentang hal itu adalah masalah yang bersifat fitri [1]. Ketiga, karena pembuktian keberadaan Tuhan dalam Al-Qur’an meniscayakan daur (circular reasoning), sebagaimana ditetapkan dalam kaidah logika. Keempat, al-Qur’an tidak menyinggung masalah keberadaan Tuhan karena ia adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa dan telah mengimaninya. Kelima, dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang mengandung pembuktian rasional tentang keberadaan Tuhan[2]. Menurut Syahristani, karena wujud Tuhan bersifat fitri (inheren), maka yang diperintahkan dan dijadikan sebagai taklif adalah mengenal keesaan (mengesakanNya) dan menghapuskan syirik (politeisme)[3].

Ayat-ayat Ontologis
Salah satu ayat yang dianggap memuat argumentasi ontologis tentang wujud Allah adalah firman Allah: ام خلقوا من غير شي ام هم الخالقون (Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri)[4]”. Menurut Al-Fakhr Al-Razi, dalam ayat ini, ada satu kalimat introgatif yang asumtif (muqaddar), yaitu “ama khuliqu” (tidakkah mereka diciptakan?) sebelum “apakah mereka diciptakan dari selain sesuatu ataukah mereka adalah pencipta-pencipta”[5]. Pertanyaan ini diajukan kepada orang-orang mendusktakan keesaan Allah. Kata syay’, menurut para filosof dan mutakallimin berarti sesuatu yang ada, karena ke-sesuatu-an (Asy-Syay’iyah, thingnes) identik dengan ke-ada-an atau keberadaan, sedangkan ke-tidak-sesuatuan atau la syay’iyah[6]atau nothingnes berarti ketiadaan[7]. “Adakah mereka diciptakan bukan dari dari sesuatu” berarti “Adakah mereka diciptakan oleh yang tiada (al-ma’dum)?”
Memang ayat ini tidak secara eksplisit membuktikan keberadaan Tuhan. Namun kita dapat menggali dari kandungan ayat yang bersifat introgatif ini sebuah argumentasi rasional. Yaitu bahwa keberadaan manusia dapat diasumsikan dalam salah satu dari tiga kemungkinan; manusia muncul dengan sendirinya tanpa pencipta atau sebab pengada; manusia menciptakan dirinya sendiri; dan manusia diciptakan oleh selain dirinya. Seandainya mereka beranggapan bahwa mereka tidak diciptakan, maka berarti mereka menolak kausalitas yang berujung pada penolakan terhadap eksistensi eksistensi mereka sendiri, atau mengangggap diri mereka sebagai pencipta. Bila mereka masing-masing adalah pencipta, maka berarti mereka telah ada sebelum ada. Ia harus ada karena menjadi pencipta, dan sekaligus tidak ada karena akan diciptakan.
Ayat-ayat seputar keesaan Tuhan dapat dibagi tiga: berdasarkan kandungan dan signifikansinya, menjadi dua tiga; pertama adalah ayat-ayat deskriptif atau informatif (al-ayât al-bayâniyah, al-ayat At-tawshifiyah); kedua adalah ayat-ayat instruktif (al-ayat-At-taklifiyah); dan ketiga adalah ayat-ayat argumentatif (al-ayat al-istidlaliyah).
Ada kalanya al-Qur’an menerangkan diri, keesaan, sifat-sifat dan perbuatan-perbuat Allah dalam bentuk keterangan, seperti “Tiada sesuatu yang menyerupainya”[8].
Biasanya ayat-ayat yang berbentuk proposisi predikatif ini diletakkan pada bagian akhir rangkaian ayat, seperti والله سميع بصير atau والله بما تعملون خبير dan sebagainya. Ayat-ayat yang berbentuik proposisi predikatif ini sangat banyak, karena sebagian besar sasaran dakwah Nabi SAW adalah masyarakat awam yang menjadikan figur Nabi sebagai tolok ukur kebenaran.
Ada kalanya al-Qur’an menjadikan keesaan sebagai taklif , dalam bentuk perintah baik kepada Nabi ataupun kepada masyarakat, seperti firman Allah dalam surah al-ikhlas, “Katakanlah bahwa Allah itu satu”. Bentuk ayat yang berupa proposisi aktif ini tidaklah banyak, karena ia hanya berlaku bagi orang-orang yang telah mengimani keesaan Allah. Biasanya ayat-ayat demikian diawali dengan kata kerja perintah “katakanlah” (perintah), karena ditujukan kepada Nabi. Ada kalanya pula al-Qur’an memuat firman Allah yang dapat dijadikan sebagai argumentasi atas wujud, keesaan dan sifat-sifat-Nya. Ayat-ayat argumentatif cukup banyak. Tapi hampir bisa disepakati bahwa ayat-ayat argumentatif tersebut berkenaan dengan keesaan Allah dan sifat-sifat-Nya.[9].
Argumen-argumen keesaan Tuhan dalam al-Qur’an sangat beragam. Ada pula membagi argumentasi-argumentasi dalam al-Qur’an menjadi empat; argumentasi penciptaan dan kreasi (al-khalq wa al-ibda’), argumentasi keteraturan alam (al-nidham), argumentasi fitrah dan argumentasi rasional. [10]. Namun semuanya dapat diringkas menjadi dua kelompok; argumen kosmologis dan argumen antropologis. Argumen-argumen kosmologis dalam al-Qur’an juga bermacam-macam; Terdapat sejumlah ayat yang berkenaan dengan makro-kosmos, seperti ayat-ayat sebagai berikut: [11]
خلق السموات بغير عمد ترونها , والقى فى الارض رواسى ان تميد بكم و بث فيها من كل دابة و انزلنا من السماء ماء فأنبتنا فيها من كل زوج كريم , هذا خلق الله فأرونى ماذا خلق الذين من دونه بل الظالمون فى ضلال مبين
الم تر ان الله انزل من السماء ماء فاخرجنا به ثمرات مختلفا الوانها ومن الجبال جدد بيض و حمر مختلف الوانها و غرابيب سود , ومن الناس و الدواب و الانعام مختلف الوانه كذلك انما يخشى الله نن عباده العلماء

Ada banyak pula ayat-ayat yang menyinggung tema mikro-kosmos, seperti ayat-ayat sebagai berikut : [12]
اقرأ باسم ربك الذى خلق , خلق الانسان من علق,
“هل اتى على الانسان حين من الدهر لم يكن شيئا مذكورا , انا خلقناه من نطفة امشاج نبتليه فجعلناه سميعا بصيرا”
“ولئن سالتهم من خلقهم ليقولن الله

Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat argumentatif tentang keesaan (al-wahdaniyah) Tuhan. Salah satunya adalah firman Allah: “Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”[13] Nabi Yusuf mengajak berfikir teman satu selnya, manakah yang rasional, meyakini beberapa tuhan yang beraneka macam ataukah satu Tuhan?. Dari ayat introgratif ini, Al-Qur’an memperkenalkan sebuah argumen ontologis tentang keberadaan Tuhan yang paling mudah dipahami, yaitu Burhan An-Nadhm (keteraturan).
Keteraturan yang dimaksudkan di sini adalah keharmonisan dan keterikatan antar setiap bagian atau antar masing-masing person baik dari esensi yang sama, maupun berlainan menuju suatu tujuan tertentu, seperti keharmonisan antar bagian-bagian pohon atau keseimbangan yang merupakan konsekuensi antara kehidupan manusia dan hewan. Jika setiap fenomena alam diatur oleh beberapa tuhan, maka tentu alam akan menjadi kacau. Bayangkan bila air dikendalikan oleh satu Tuhan, mendung diurus oleh Tuhan lain, matahari berada di bawah kendali Tuhan lain, maka hujan yang merupakan akibat dari akumulasi fenomena sebelumnya itu tidak akan pernah terwujud. Dengan kata lain, seandainya benar bahwa mereka adalah Tuhan-Tuhan, maka masing-masing tidak membutuhkan hasil penciptaan dan pengaturan Tuhan lainnya. Seandainya membutuhkan, maka berarti Tuhan yang membutuhkan selain dirinya itu bukanlah Tuhan. Itulah kontradiksi. Bila setiap fenomena alam diciptakan oleh beberapa Tuhan, niscaya matahari tidak akan butuh pada mendung, mendung tidak akan membutuhkan angin, dan begitulah seterusnya. Ketika masing-masing fenomena alam itu berdiri sendiri, maka akan bercerai-berai. Ketika bercerai-berai, maka tidak akan mewujudkan fenomena yang namanya hujan.[14] Karena itulah “khair” (yang bisa diartikan baik dan bisa pula diartikan lebih baik) dalam ayat “Apakah beberapa tuhan yang berpencaran lebih baik dari satu Tuhan Yang Maha Perkasa” mungkin bisa diartikan secara modern dengan “lebih rasional”.
Menurut Muhammad Taqi Misbah pengetahuan dan pengakuan manusia akan Allah, dalam ayat tersebut, adalah pengetahuan yang sifatnya huduri-syuhudi (ilmu huduri) dan bukan hushuli[15]. “Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, wahai anak-anak Adam, agar kalian tidak menyembah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh kalian yang nyata. Dan sembahlah Aku. Itulah jalan yang lurus[16].” Sebagian ulama berpendapat, bahwa perintah ini terjadi di alam sebelum alam dunia, dan dijadikan sebagai bukti, bahwa mengenal Allah adalah sebuah fitrah.
“Di kala mereka menaiki kapal, mereka berdoa (memanggil) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka ke daratan, mereka kembali berbuat syirik[17].” Ayat ini menjelaskan, bagaimana fitrah itu mengalami pasang surut dalam diri manusia. Biasanya, fitrah itu muncul saat manusia merasa dirinya tidak berdaya dalam menghadapi kesulitan. Dalam kitab tafsir Al-amtsal disebutkan, bahwa kesulitan dan bencana dapat menjadikan fitrah manusia tumbuh, karena cahaya tauhid tersimpan dalam jiwa setiap manusia. Namun, fitrah itu sendiri bisa tertutup, disebabkan oleh tradisi dan tingkah laku yang menyimpang, atau pendidikan yang keliru. Lalu ketika bencana dan kesulitan dari berbagai arah menimpanya, sementara dia tidak berdaya menghadapinya, maka pada saat seperti itu dia berpaling kepada Sang Pencipta[18]. Oleh karena itu, para ahli ma’rifat dan ahli hikmah berkeyakinan, bahwa dalam suatu musibah besar, yaitu kesadaran manusia terhadap (keberadaan) Allah muncul kembali

Ayat-ayat Kosmologis
Selain menegaskan bahwa masalah tauhid adalah fitrah, al-Qur’an juga berusaha mengajak manusia berpikir dengan akalnya bahwa di balik terciptanya alam raya dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya (membuktikan) adanya Sang Pencipta.
Allamah al-Hilli, teolog kenamaan Syiah, menjelaskan, bahwa para ulama dalam upaya membuktikan wujud Sang Pencipta mempunyai dua jalan. Salah satunya, adalah dengan jalan membuktikan wujud Allah melalui fenomena-fenomena alam yang membutuhkan ‘sebab’, seperti diisyaratkan dalam ayat al-Qur’an berikut ini: “Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di alam raya ini (afaq) dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa sesungguhnya Dia itu benar (haq). Inilah jalan yang ditempuh Nabi Ibrahim as. Pengembaraan rasional Nabi Ibrahim as. seperti ini dalam mencari Tuhan, yang sebenarnya iatujukan untuk mengajak kaumnya berpikir, merupakan metode Afaqi yang efektif sekali.[19]
Untuk lebih jelasnya, kita dapat melihat langsung ayat-ayat yang menjelaskan pengembaraan rasional Nabi Ibrahim as. tersebut dalam al-Qur’an[20]. Ayat-ayat al-Qur’an yang mengajak kita untuk merenungkan fenomena alam dan keunikan-keunikan makhluk yang ada di dalamnya, sangatlah banyak. Tentang hal ini, kami mencoba mengklasifikasikan kepada dua kelompok:
Pertama, ayat-ayat tentang benda-benda mati di langit dan di bumi. Misalnya, ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki akal[21].” Atau ayat lain berbunyi, “Sesungguhnya, pada pergantian malam dan siang dan apa yang Allah ciptakan di langit dan di bumi, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertaqwa.[22]” Kedua ayat tersebut dan ayat-ayat lainnya, memandang langit dan seisinya serta bumi dan segala yang terkandung di dalamnya, sebagai tanda dan bukti wujud Allah swt.. Karena secara akal, tidak mungkin semua itu ada dengan sendirinya, di samping semuanya itu akan mengalami perubahan atau hadits. Kedua, ayat-ayat tentang keunikan berbagai ragam binatang. Antara lain nya ayat yang berkenaan dengan kehidupan lebah, “Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, pada pohon-pohon dan tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari berbagai buah-buahan, dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan. (Lalu) dari perut lebah tersebut akan keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. Padanya terdapat obat untuk manusia. Sesungguhnya, pada semua itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.[23]” Seekor lebah akan hinggap dari satu bunga kepada bunga yang lain, untuk menghisap cairan yang terkandung di dalamnya, lalu (darinya) dihasilkan madu yang lezat dan dapat dimanfaatkan sebagai penawar penyakit.
Di samping ayat fitrah dan Afaqi, terdapat pula ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang ketuhanan melalui pendekatan argumentasi rasional (Burhan Aqli). Antara lain sebagai berikut:
Pertama: “Seandainya di langit dan di bumi terdapat beberapa Tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan rusak.[24]” Dalam terminologi ilmu mantiq (logika aristotelian) argumentasi di atas disebut dengan qiyas istitsna’i. Qiyas ini terdiri dari dua unsur yang disebut dengan muqaddam dan tali.Ia mempunyai mempunyai beberapa bentuk, salah satunya ialah, jika tali itu benar maka muqaddam benar juga, dan jika tali keliru maka dengan sendirinya muqaddam keliru. Dalam aplikasi kehidupan sehari-hari mereka seringkali memberi contoh seperti ini, jika matahari terbit maka siang tiba, namun jika siang belum tiba berarti matahari belum terbit. Jika Tuhan itu berbilang maka alam raya ini tidak teratur dan seimbang, namun kenyataannya alam raya ini teratur dan seimbang, berarti Tuhan tidak berbilang. Dalil ini disebut para mutakallimin dan filosof dengan istilah dalil tamanu’ (bukti kontradiksi)’.
Kedua: “Tidaklah Allah mempunyai anak dan tidak pula ada Tuhan di samping -Nya. (karena jika mempunyai anak dan ada Tuhan selain-Nya), maka masing-masing Tuhan akan membawa ciptaan-Nya sendiri dan sebagian akan lebih unggul dari sebagian yang lainnya[25].” Ayat ini juga menggunakan qiyas yang sama dengan ayat sebelumnya. Maksud ayat tersebut, ialah bahwa jika Tuhan itu banyak, maka masing-masing dari mereka mempunyai ciptaan sendiri-sendiri sebagai bukti kekuasaannya, dan mereka akan mengaturnya sesuai dengan kemauan mereka. Tiada yang dapat memaksa dan menghalangi kemauan mereka. Jika ada satu Tuhan yang mengalah atau dikalahkan kemauannya oleh yang lainnya, maka dia sebenarnya bukan Tuhan, karena Tuhan harus Maha Kuat dan Maha Kuasa yang tidak mungkin terkalahkan. Lebih jelas lagi, jika Tuhan itu banyak, maka mampukah sebagian mengalahkan yang lainnya? Jika dapat, maka yang kalah bukanlah Tuhan, sebaliknya jika tidak dapat, maka Tuhan yang tidak bisa mengalahkan Tuhan yang lain sebenarnya bukan Tuhan, karena Tuhan adalah Maha Kuasa.
Ketiga: “Katakanlah, sendainya terdapat beberapa Tuhan di samping-Nya, sebagai mana yang mereka yakini, niscaya mereka mencari jalan menuju Tuhan, Pemilik ‘Arsy.[26]”
Ayat ini juga menggunakan pendekatan yang sama dengan ayat sebelumnya, yaitu qiyas istitsna’i. Allamah Thabathabai dalam mengomentari ayat di atas berkata, “Kesimpulan dalil ini ialah bahwa jika terdapat beberapa tuhan di samping Allah swt., sebagaiman yang mereka yakini, dan setiap mereka dapat meraih apa yang dimiliki-Nya, maka mereka ingin meraih kekuasaan dan akan menyingkirkan-Nya, sehingga mereka akan lebih berkuasa. Lantaran, keinginan untuk berkuasa merupakan ciri dari segala sesuatu yang wujud. Namun tiada satupun yang dapat melakukan hal itu.[27]” Dalam ayat tersebut disingung kata-kata ‘Arsy, sebagai tempat yang sangat agung dan tinggi, serta merupakan lambang kebesaran dan kekuasaan yang paling tinggi. Mereka pasti ingin menguasainya, sebagai bukti kebesaran mereka.
Keempat: “Katakanlah,’Tidakkah kalian perhatikan, jika Allah jadikan untuk kalian malam terus menerus sampai hari kiamat, Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepada kalian?’ Maka apakah kalian tidak mendengar?[28]” Dalam ayat lain Allah berfirman: “Katakanlah,’Tidakkah kalian renungkan, jika Allah jadikan untuk kalian siang terus menerus sampai hari kiamat, Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepada kalian untuk beristirahat?’ Tidakkah kalian perhatikan?”
Kedua ayat ini dengan tegas membantah kaum musyrikin yang menganggap patung-patung sebagai Tuhan. Andaikan patung-patung itu Tuhan, maka mereka harus bisa mengubah hukum alam ini, karena Tuhan adalah Dzat yang Mahakuasa.
Kelima: ‘Sesungguhnya Allah mendatangkan (menerbitkan) matahari dari ufuk timur, maka terbitkanlah ia dari ufuk barat?’ Maka terdiamlah orang kafir[29].” Ayat ini menceritakan perdebatan antara Nabi Ibrahim as. dengan raja Namrudz yang mengaku sebagai Tuhan. Iaingin mematahkan argumen Namrudz, dengan cara menyuruhnya agar memperlihatkan kekuasaan dan keperkasaannya dengan menerbitkan matahari dari ufuk barat bukan dari ufuk timur.
Permintaan Nabi Ibrahim as. seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh Raja Namrudz, sehingga tampak jelas di mata khalayak banyak, bahwa Raja Namrud bukan Tuhan semesta alam. Nabi Ibrahim as. dikenal sebagai seorang nabi yang bijak dan cerdik, yang sering memojokkan lawan bicaranya dengan argumentasi yang sederhana namun akurat, sehingga lawan bicaranya dibuat tidak berkutik. Allah swt. sering mengutip dalam kitab-Nya tentang perdebatan iadengan orang musyrik, misalnya dalam surah al-Anbiya, ayat 62 sampai ayat 65.
Keenam: “Sungguh telah kafir orang-orang yang meyakini, bahwa Tuhan itu adalah al-Masih putera Maryam. Katakanlah,’Maka siapakah yang dapat menahan Allah, jika hendak mematikan al-Masih putera Maryam dan Ibunya atau seluruh yang hidup di muka bumi ini?[30]”
Penuhanan Nabi Isa sudah berlangsung sejak zaman diturunkannya Al-Qur’an, bahkan jauh sebelumnya. Melalui ini, Allah ingin menyatakan, bahwa Isa al-Masih as. bukanlah Tuhan, tapi seorang manusia pilihan Allah. Karena terbukti (menurut kaum Nashrani), bahwa al-Masih telah meninggal, apapun alasan kematiannya. Hal ini mengindikasikan, bahwa al-Masih itu tidak lain dari ciptaan Allah semata, karena ciri khas Tuhan adalah kekal dan sejati.
Ketujuh: “(Tuhan) Pencipta langit dan Bumi, bagaimana mungkin Dia mempunyai putera, padahal Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu[31]”. Dalam ayat lain Allah berfirman: “Wahai manusia, kalian adalah faqir (membutuhkan) kepada Allah, sementara Allah adalah Mahakaya lagi Maha Terpuji[32].”
Kata faqir berarti sesuatu atau seseorang yang tidak mempunyai apa-apa. Allah ingin menegaskan, bahwa manusia itu benar-benar faqir , artinya benar-benar ia membutuhkan kepada Allah dalam segala perkara dan keadaan, hatta wujudnya (eksistensi dirinya). Atau dengan meminjam istilah Mulla Sadra, seorang filosuf Muslim dan penulis kitab al-Hikmah al-Muta’aliyah, yaitu bahwa selain Allah adalah faqir wujudi. Pengertian benar-benar faqir, diambil dari huruf alim lam Ta’alarif pada kata ‘al-Fuqara’ (lihat teks arabnya) yang berkonotasi pembatasan atau pengkhususan (hashr). Sedangkan kata al-Ghani, berarti yang tidak membutuhkan apapun.
Sifat ghani hanya ada pada Allah saja. Jadi hanya Allah sajalah yang tidak membutuhkan apa-apa (al-ghina) kepada yang lain, merupakan ciri khas Tuhan semesta alam.
Kedelapan: “Dialah Yang Awal dan yang Akhir, yang tampak dan Yang Tersembunyi, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu[33].” Allah yang pertama dan terdahulu, sehingga tiada yang lebih dahulu, sehingga tiada yang lebih dahulu dari-nya. Akan tetapi, pada saat yang sama Dia yang Paling Akhir, sehingga tiada yang lebih akhir dari-Nya. Dia pula yang paling Tampak dan Jelas, dan tiada yang lebih jelas dari-Nya, akan tetapi pada saat yang sama Dia yang Tersembunyi, itu semua ada pada-Nya, karena Dialah ‘illat (prima kausa) segala sesuatu dan tidak tergantung kepada selain-Nya (al-Ghani), sementara segala sesuatu bergantung kepada-Nya dalam segala sesuatu dan keadaan (al-faqir).
Kesembilan: “Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya[34]”. Ayat ini ringkas, namun menjelaskan wujud dan semua sifat kesempurnaan Allah swt.. Tiada sesuatu apapun pun yang menyerupai Allah dalam segala hal, karena andaikan ada sesuatu yang menyerupai Allah, maka Dia bukan lagi Maha Esa. Dia sangat jauh berbeda dengan makhluk-Nya. Dengan kesendirian-Nya dalam wujud dan sifat kesempurnaan, tapi pada saat yang sama Dia sangat dekat dengan makhluk-Nya, lantaran makhluk merupakan bagian dari wujud-Nya dan dalam liputan-Nya.
Pendek kata, kita bisa menggali premis-premis ontologis dan filosofis dari al-Qur’an. Tuhan bisa dikenali dan eksistensi serta keesaan-Nya dapat dibuktikan melalui ayat-ayat al-Qur’an, selama ia diperlakukan sebagai proposisi-proposisi ontologis. Itu berarti al-Qur’an dapat dipersembahkan sebagai sebuah teks rasional dan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan keandalannya. Bagi umat Islam, ayat-ayat al-Qur’an, selain sebagai proposisi-proposisi ekstemporal, adalah wahyu ilahi yang melampaui aksioma-aksioma logis. [ www.wisdoms4all.com/ind ]


________________________________________
[1] Ja’far Subhani, Allah Khaliq Al-kaun, Maktab Ad-Dakwah Al-Islamiyah, hal. 67, Qom, 1999.
[2] Abdul Aziz bin Al-Dardir, At-Tafsir al-maudhu’i li ayat at-tauhid, 25; Dr. Musthafa Muslim, Mabahits fi At-tafsir al-Maudhu’i, Dar al-Qalam, Damaskus 1989, hal. 106.
[4] QS: Al-Thur: 35
[5] Al-Fakhr Al-Razi, At-Tafisr Al-Kabir, hal 258, Dar Al-A’lami li Al-Mathbu’at, Beirut, 1989
[6] A.S. Hornby & E.C. Parnwell, Reader’s Dictionary, 347, Oxford Progressive English.
[7] M. H. M. H. Thabathabai, Nihayah Al-Hikmah, hal 32, Muassasah An-Nasyr Al-Islami, Qom
[8] QS Asy-Syura, 11
[9] M. Taqi Misbah Yazdi, Ma’arif Al-Qur’an, hal. 37 Mu’assasah An-Nasyr Al-Islami, Qom.
[10] Dr. Musthapha Moslem, Mabahits fi At-tafisr al-maudhu’i, hal. 121-161, cet 1, Dar Al-Qalam, 1989.
[11] QS: Luqman, 11 – 12
[12] QS: Al-alaq 1-2
[13] QS Yusuf: 39
[14] Ja’far Subhani, Muhadharat fi Al-Ilahiyat, 21-23, Muassasah An-Nasyr Al-Islami, Qom. M. Taqi Misbah Yazdi, Ma’arif Al-Qur’an, 87-94, Mu’assasah An-Nasyr Al-Islami, Qom, 1985.
[15] M. Taqi Misbah Yazdi, Ma’arif Al-Qur’an juz 1 hal 33. Muassasah An-Nasyr Al-Islami, Qom.
[16] QS: Yasin, ayat 60-61
[17] QS: al-Ankabut ayat 65
[18] Naser Makarim Syirazi, Tafsir Al-amtsal, 2001, juz 16 hal 340-34, Dar Al-Ridha, Qom.
[19] Al-Hilli, Al-Bab Al-Hadi- Asyar, hal 7, Muasssah An-Basyr Al-Islami, Qom, 1985.
[20] QS: Al-An’am: 75-79
[21].QS: Fush-shilat: 53
[22] QS. Yunus: 6.
[23] QS. An-Nahl : 68-69
[24] QS: Al-Anbiya: 22
[25] QS: Al-Mukminun: 91
[26] QS. al-Isra: t 42
[27] M. H. M. H. Thabathabai, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, vol. 13 hal. 106-107, Dar Al-A’lami li Al-Mathbu’at, Beirut.
[28] QS. al-Qashash: 71-72
[29] QS: al-Baqarah: 258
[30] QS al-maidah: 17
[31] QS al-An’am: 101
[32] QS Fathir: 15
[33] QS al-Hadid: 3
[34] QS: asy-Syura :11

FILSAFAT MISTERI ALAM

Senin, 08 September 2008

Pendidikan Anak Dalam Islam

MSI-UII.Net - 20/2/2008
Dan orang-orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan keturunan kami kesenangan hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
( QS. Al-Furqan : 74 )
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At Tahrim: 6 ).
“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.”
(HR. Muslim, dari Abu Hurairah)
PENDAHULUAN
Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul termulia, kepada keluarga dan para sahabatnya.
Seringkali orang mengatakan: “Negara ini adikuasa, bangsa itu mulia dan kuat, tak ada seorangpun yang berpikir mengintervensi negara tersebut atau menganeksasinya karena kedigdayaan dan keperkasaannya” .
Dan elemen kekuatan adalah kekuatan ekonomi, militer, teknologi dan kebudayaan. Namun, yang terpenting dari ini semua adalah kekuatan manusia, karena manusia adalah sendi yang menjadipusat segala elemen kekuatan lainnya. Tak mungkin senjata dapat dimanfaatkan, meskipun canggih, bila tidak ada orang yang ahli dan pandai menggunakannya. Kekayaan, meskipun melimpah, akan menjadi mubadzir tanpa ada orang yang mengatur dan mendaya-gunakannya untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat.
Dari titik tolak ini, kita dapati segala bangsa menaruh perhatian terhadap pembentukan individu, pengembangan sumber daya manusia dan pembinaan warga secara khusus agar mereka menjadi orang yang berkarya untuk bangsa dan berkhidmat kepada tanah air.
Sepatutnya umat Islam memperhatikan pendidikan anak dan pembinaan individu untuk mencapai predikat “umat terbaik”, sebagaimana dinyatakan Allah ‘Azza Wa lalla dalam firman-Nya:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dariyang munkar… “. (Surah Ali Imran : 110).
Dan agar mereka membebaskan diri dari jurang dalam yang mengurung diri mereka, sehingga keadaan mereka dengan umat lainnya seperti yang beritakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam :
“Hampir saja umat-umat itu mengerumuni kalian bagaikan orang-orang yang sedang makan berkerumun disekitar nampan.”. Ada seorang yang bertanya: “Apakah karena kita berjumlah sedikit pada masa itu?” Jawab beliau: “Bahkan kalian pada masa itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih air bah. Allah niscaya mencabut dari hati musuh kalian rasa takut kepada kalian, dan menanamkan rasa kelemahan dalam dada kalian”. Seorang bertanya: “Ya Rasulullah, apakah maksud kelemahan itu?” Jawab beliau: “Yaitu cinta kepada dunia dan enggan mati”.
PERANAN KELUARGA DALAM ISLAM
Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.
Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.
Musuh-musuh Islam telah menyadari pentingya peranan keluarga ini. Maka mereka pun tak segan-segan dalam upaya menghancurkan dan merobohkannya. Mereka mengerahkan segala usaha ntuk mencapai tujuan itu. Sarana yang mereka pergunakan antara lain:
1. Merusak wanita muslimah dan mempropagandakan kepadanya agar meninggallkan tugasnya yang utama dalam menjaga keluarga dan mempersiapkan generasi.
2. Merusak generasi muda dengan upaya mendidik mereka di tempat-tempat pengasuhan yang jauh dari keluarga, agar mudah dirusak nantinya.
3. Merusak masyarakat dengan menyebarkan kerusakan dan kehancuran, sehingga keluarga, individu dan masyarakat seluruhnya dapat dihancurkan.
Sebelum ini, para ulama umat Islam telah menyadari pentingya pendidikan melalui keluarga. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang temak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”
TUJUAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM
Banyak penulis dan peneliti membicarakan tentang tujuan pendidikan individu muslim. Mereka berbicara panjang lebar dan terinci dalam bidang ini, hal yang tentu saja bermanfaat. Apa yang mereka katakan kami ringkaskan sebagai berikut:
” Nyatalah bahwa pendidikan individu dalam islam mempunyai tujuan yang jelas dan tertentu, yaitu: menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tak perlu dinyatakan lagi bahwa totalitas agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah pada shalat, shaum dan haji; tetapi setiap karya yang dilakukan seorang muslim dengan niat untuk Allah semata merupakan ibadah.” (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Mu’atstsirat as Salbiyah fi Tarbiyati at Thiflil Muslim wa Thuruq ‘Ilajiha, hal. 76.
MEMPERHATIKAN ANAK SEBELUM LAHIR
Perhatian kepada anak dimulai pada masa sebelum kelahirannya, dengan memilih isteri yang shalelhah, Rasulullah SAW memberikan nasehat dan pelajaran kepada orang yang hendak berkeluarga dengan bersabda :
” Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi” (HR.Al-Bukhari dan Muslim)
Begitu pula bagi wanita, hendaknya memilih suami yang sesuai dari orang-orang yang datang melamarnya. Hendaknya mendahulukan laki-laki yang beragama dan berakhlak. Rasulullah memberikan pengarahan kepada para wali dengan bersabda :
“Bila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawikanlah. Jika tidak kamu lakukan, nisacayaterjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar”
Termasuk memperhatikan anak sebelum lahir, mengikuti tuntunan Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga kita. Rasulullah memerintahkan kepada kita:
“Jika seseorang diantara kamu hendak menggauli isterinya, membaca: “Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami”. Maka andaikata ditakdirkan keduanya mempunyai anak, niscaya tidak ada syaitan yang dapat mencelakakannya”.
MEMPERHATIKAN ANAK KETIKA DALAM KANDUNGAN
Setiap muslim akan merasa kagum dengan kebesaran Islam. Islam adalah agama kasih sayang dan kebajikan. Sebagaimana Islam memberikan perhatian kepada anak sebelum kejadiannya, seperti dikemukakan tadi, Islam pun memberikan perhatian besar kepada anak ketika masih menjadi janin dalam kandungan ibunya. Islam mensyariatkan kepada ibu hamil agar tidak berpuasa pada bulan Ramadhan untuk kepentingan janin yang dikandungnya. Sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya Allah membebaskan separuh shalat bagi orang yang bepergian, dan (membebaskan) puasa bagi orang yang bepergian, wanita menyusui dan wanita hamil” (Hadits riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i. Kata Al Albani dalam Takhrij al Misykat: “Isnad hadits inijayyid’ )
Sang ibu hendaklah berdo’a untuk bayinya dan memohon kepada Allah agar dijadikan anak yang shaleh dan baik, bermanfaat bagi kedua orangtua dan seluruh kaum muslimin. Karena termasuk do’a yang dikabulkan adalah do’a orangtua untuk anaknya.
MEMPERHATIKAN ANAK SETELAH LAHIR
Setelah kelahiran anak, dianjurkan bagi orangtua atau wali dan orang di sekitamya melakukan hal-hal berikut:
1. Menyampaikan kabar gembira dan ucapan selamat atas kelahiran.
Begitu melahirkan, sampaikanlah kabar gembira ini kepada keluarga dan sanak famili, sehingga semua akan bersuka cita dengan berita gembira ini. Firman Allah ‘Azza Wa Jalla tentang kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam bersama malaikat:
“Dan isterinya berdiri (di balik tirai lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari lshaq (akan lahir puteranya) Ya ‘qub. ” (Surah Hud : 71).
Dan firman Allah tentang kisah Nabi Zakariya ‘Alaihissalam:
“Kemudian malaikat Jibril memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah mengembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu ) Yahya ” (Ali Imran: 39).
Adapun tahni’ah (ucapan selamat), tidak ada nash khusus dari Rasul dalam hal ini, kecuali apa yang disampaikan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam apabila dihadapkan kepada beliau anak-anak bayi, maka beliau mendo’akan keberkahan bagi mereka dan mengolesi langit-langit mulutnya (dengan korma atau madu )” ( Hadits riwayat Muslim dan Abu Dawud).
Abu Bakar bin Al Mundzir menuturkan: Diriwayatkan kepada kami dari Hasan Basri, bahwa seorang laki-laki datang kepadanya sedang ketika itu ada orang yang baru saja mendapat kelahiran anaknya. Orang tadi berkata: Penunggang kuda menyampaikan selamat kepadamu. Hasan pun berkata: Dari mana kau tahu apakah dia penunggang kuda atau himar? Maka orang itu bertanya: Lain apa yang mesti kita ucapkan. Katanya: Ucapkanlah:
“Semoga berkah bagimu dalam anak, yang diberikan kepadamu, Kamu pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dikaruniai kebaikannya, dan dia mencapai kedewasaannya” ( Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Tuhfatul fi Ahkamil Maulud.)
2. Menyerukan adzan di telinga bayi.
Abu Rafi’ Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan:
“Aku melihat Rasulullah memperdengarkan adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fatimah” ( Hadits riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi.
Hikmahnya, Wallahu A’lam, supaya adzan yang berisi pengagungan Allah dan dua kalimat syahadat itu merupakan suara yang pertama kali masuk ke telinga bayi. Juga sebagai perisai bagi anak, karena adzan berpengaruh untuk mengusir dan menjauhkan syaitan dari bayi yang baru lahir, yang ia senantiasa berupaya untuk mengganggu dan mencelakakannya. Ini sesuai dengan pemyataan hadits:
” Jika diserukan adzan untuk shalat, syaitan lari terbirit-birit dengan mengeluarkan kentut sampai tidak mendengar seruan adzan” (Ibid)
3. Tahnik (Mengolesi langit-langit mulut).
Termasuk sunnah yang seyogianya dilakukan pada saat menerima kelahiran bayi adalah tahnik, yaitu melembutkan sebutir korma dengan dikunyah atau menghaluskannya dengan cara yang sesuai lalu dioleskan di langit-langit mulut bayi. Caranya,dengan menaruh sebagian korma yang sudah lembut di ujung jari lain dimasukkan ke dalam mulut bayi dan digerakkan dengan lembut ke kanan dan ke kiri sampai merata. Jika tidak ada korma, maka diolesi dengan sesuatu yang manis (seperti madu atau gula). Abu Musa menuturkan:
“Ketika aku dikaruniai seorang anak laki-laki, aku datang kepada Nabi, maka beliau menamainya Ibrahim, mentahniknya dengan korma dan mendo’akan keberkahan baginya, kemudian menyerahkan kepadaku”.
Tahnik mempunyai pengaruh kesehatan sebagaimana dikatakan para dokter. Dr. Faruq Masahil dalam tulisan beliau yang dimuat majalah Al Ummah, Qatar, edisi 50, menyebutkan: “Tahnik dengan ukuran apapun merupakan mu’jizat Nabi dalam bidang kedokteran selama empat belas abad, agar umat manusia mengenal tujuan dan hikmah di baliknya. Para dokter telah membuktikan bahwa semua anak kecil (terutama yang baru lahir dan menyusu) terancam kematian, kalau terjadi salah satu dari dua hal:
a. Jika kekurangan jumlah gula dalam darah (karena kelaparan).
b. Jika suhu badannya menurun ketika kena udara dingin di sekelilingnya.”‘
4. Memberi nama.
Termasuk hak seorang anak terhadap orangtua adalah memberi nama yang baik. Diriwayatkan dari Wahb Al Khats’ami bahwa Rasulullah bersabda:
” Pakailah nama nabi-nabi, dan nama yang amat disukai Allah Ta’ala yaitu Abdullah dan Abdurrahman, sedang nama yang paling manis yaitu Harits dan Hammam, dan nama yang sangat jelek yaitu Harb dan Murrah” ( HR.Abu Daud An Nasa’i)
Pemberian nama merupakan hak bapak.Tetapi boleh baginya menyerahkan hal itu kepada ibu. Boleh juga diserahkan kepada kakek, nenek,atau selain mereka.
Rasulullah merasa optimis dengan nama-nama yang baik. Disebutkan Ibnul Qayim dalam Tuhfaful Wadttd bi Ahkami Maulud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tatkala melihat Suhail bin Amr datang pada hari Perjanjian Hudaibiyah beliau bersabda: “Semoga mudah urusanmu”
Dalam suatu perjalanan beliau mendapatkan dua buah gunung, lain beliau bertanya tentang namanya. Ketika diberitahu namanya Makhez dan Fadhih, beliaupun berbelok arah dan tidak melaluinya.( Ibnu Qayim Al Jauziyah, Tuhfatul Wadud, hal. 41.)
Termasuk tuntunan Nabi mengganti nama yang jelek dengan nama yang baik. Beliau pernah mengganti nama seseorang ‘Ashiyah dengan Jamilah, Ashram dengan Zur’ah. Disebutkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan :”Nabi mengganti nama ‘Ashi, ‘Aziz, Ghaflah, Syaithan, Al Hakam dan Ghurab. Beliau mengganti nama Syihab dengan Hisyam, Harb dengan Aslam, Al Mudhtaji’ dengan Al Munba’its, Tanah Qafrah (Tandus) dengan Khudrah (Hijau), Kampung Dhalalah (Kesesatan) dengan Kampung Hidayah (Petunjuk), dan Banu Zanyah (Anak keturunan haram) dengan Banu Rasydah (Anak keturunan balk).” (Ibid)
5. Aqiqah.
Yaitu kambing yang disembelih untuk bayi pada hari ketujuh dari kelahirannya. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Salman bin Ammar Adh Dhabbi, katanya: Rasulullah bersabda:
“Setiap anak membawa aqiqah, maka sembelihlah untuknya dan jauhkanlah gangguan darinya” (HR. Al Bukhari.)
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha,bahwaRasulullah bersabda:
“Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sebanding, sedang untuk anak perempuan seekor kambing” (HR. Ahmad dan Turmudzi).
Aqiqah merupakah sunnah yang dianjurkan. Demikian menurut pendapat yang kuat dari para ulama. Adapun waktu penyembelihannya yaitu hari ketujuh dari kelahiran. Namun, jika tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh boleh dilaksanakan kapan saja, Wallahu A’lam.
Ketentuan kambing yang bisa untuk aqiqah sama dengan yang ditentukan untuk kurban. Dari jenis domba berumur tidak kurang dari 6 bulan, sedang dari jenis kambing kacang berumur tidak kurang dari 1 tahun, dan harus bebas dari cacat.
6. Mencukur rambut bayi dan bersedekah perak seberat timbangannya.
Hal ini mempunyai banyak faedah, antara lain: mencukur rambut bayi dapat memperkuat kepala, membuka pori-pori di samping memperkuat indera penglihatan, pendengaran dan penciuman. (Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Auladfil Islam, juz 1.)
Bersedekah perak seberat timbangan rambutnya pun mempunyai faedah yang jelas.
Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, katanya:
“Fatimah Radhiyalllahu ‘anha menimbang rambut Hasan, Husein, Zainab dan Ummu Kaltsum; lalu ia mengeluarkan sedekah berupa perak seberat timbangannya (HR. Imam Malik dalam Al Muwaththa’)
7. Khitan.
Yaitu memotong kulup atau bagian kulit sekitar kepala zakar pada anak laki-laki, atau bagian kulit yang menonjol di atas pintu vagina pada anak perempuan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda:
“Fitrah itu lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak” (HR. Al-bukhari, Muslim)
Khitan wajib hukumnya bagi kaum pria, dan rnustahab (dianjurkar) bagi kaum wanita.WallahuA’lam.
Inilah beberapa etika terpenting yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh orangtua atau pada saat-saat pertama dari kelahiran anak.
Namun, di sana ada beberapa kesalahan yang terjadi pada saat menunggu kedatangannya Secara singkat, antara lain:
A. Membacakan ayat tertentu dari Al Qur’an untuk wanita yang akan melahirkan; atau menulisnya lalu dikalungkan pada wanita, atau menulisnya lalu dihapus dengan air dan diminumkan kepada wanita itu atau dibasuhkan pada perut danfarji (kemaluan)nya agar dimudahkan dalam melahirkan. ltu semua adalah batil, tidak ada dasamya yang shahih dari Rasulullah, Akan tetapi bagi wanita yang sedang menahan rasa sakit karena melahirkan wajib berserah diri kepada Allah agar diringankan dari rasa sakit dan dibebaskan dari kesulitannya Dan ini tidak bertentangan dengan ruqyah yang disyariatkan.
B. Menyambut gembira dan merasa senang dengan kelahiran anak laki-laki, bukan anak perempuan.
Hal ini termasuk adat Jahiliyah yang dimusuhi Islam. Firman Allah yang berkenaan dengan mereka:
“Apabila seseorang dari merea diberi kabar dengan (kelahiran) anak, perempuan, hitamlah (merah padamlah) matanya, dan dia sangat marah; ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan padanya. Apakah dia akan memeliharannya dengan menanggumg kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang telah mereka lakukan itu”(Surah An Nahl : 58-59).
Mungkin ada sebagian orang bodoh yang bersikap berlebihan dalam hal ini dan memarahi isterinya karena tidak melahirkan kecuali anak perempuan. Mungkin pula menceraikan isterinya karena hal itu, padahal kalau dia menggunakan akalnya, semuanya berada di tangan Allah ‘Azza wa lalla. Dialah yang memberi dan menolak. Firman-Nya:
Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kepada siapa yang dia kehendaki-Nya, dan dia menjadikan Mandul siapa yang Dia kehendaki…” (Surah Asy Syura :49-50).
Semoga Allah memberikan petunjukkepada seluruh kaum Muslimin.
C. Menamai anak dengan nama yang tidak pantas.Misalnya, nama yang bermakna jelek, atau nama orang-orang yang menyimpang seperti penyanyi atau tokoh kafir. Padahal menamai anak dengan nama yang baik merupakan hak anak yang wajib atas walinya.
Termasuk kesalahan yang berkaitan dengan pemberian nama, yaitu ditangguhkan sampai setelah seminggu.
D. Tidak menyembelih aqiqah untuk anak padahal mampu melakukannya. Aqiqah merupakan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam, dan mengikuti tuntunan beliau adalah sumber segala kebaikan.
E. Tidak menetapi jumlah bilangan yang ditentukan untuk aqiqah. Ada yang mengundang untuk acara aqiqah semua kenalannya dengan menyembelih 20 ekor kambing, ini merupakan tindakan berlebihan yang tidak disyariatkan. Ada pula yang kurang dari jumlah bilangan yang ditentukan, dengan menyembelih hanya seekor kambing untuk anak iaki-laki, inipun menyalahi yang disyariatkan. Maka hendaklah kita menetapi sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wasalam tanpa menambah ataupun mengurangi.
F. Menunda khitan setelah akil baligh.Tradisi ini dulu terjadi pada beberapa suku, seorang anak dikhitan sebelum kawin dengan cara yang biadab di hadapan orang banyak.
Itulah sebagian kesalahan, dan masih banyak lainnya. Semoga cukup bagi kita dengan menyebutkan etika dan tata cara yang dituntunkan ketika menerima kelahiran anak. Karena apapun yang bertentangan dengan hal-hal tersebut, termasuk kesalahan yang tidak disyariatkan. (Disarikan dari kitab Adab Istiqbal al Maulud fil Islam, oleh ustadz Yusuf Abdullah al Arifi)
MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA ENAM TAHUN PERTAMA
Periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periede ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengannyata pada kepribadiannya ketika menjadi dewasa. (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah.)
Karena itu, para pendidik perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam periode ini.
Aspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dapat kami ringkaskan sebagai berikut:
1. Memberikan kasih sayang yang diperlukan anak dari pihak kedua orangtua, terutama ibu.
Ini perlu sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini,maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. “Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini, yang dikaruniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya dalam diri ibu, yang memancar dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan anak.” (Muhammad Quthub,Manhaiut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2.)
Maka sang ibu hendaklah senantiasa memperhatikan hal ini dan tidak sibuk dengan kegiatan karir di luar rumah, perselisihan dengan suami atau kesibukan lainnya.
2. Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal kehidupannya.
Kami kira, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Telah terbukti bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap, sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini.
Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak, sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang.
3. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan kehidupannya.
Yaitu dengan menetapi manhaj Islam dalam perilaku mereka secara umum dan dalam pergaulannya dengan anak secara khusus. Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang tejadi di sekitarnya, sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. “Karena kemampuan anak untuk menangkap, dengan sadar atau tidak, adalah besar sekali. Terkadang melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang, sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya, itu semua berpengaruh baginya. Sebab, di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru, meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak.
Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Anak akan menangkap secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran puma, dan akan meniru secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran purna, segala yang dilihat atau didengar di sekitamya.” (Ibid.)
4. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya.
Antara lain: (Silahkan lihat Ahmad Iuuddin Al Bayanuni,MinhajAt TarbiyahAsh Shalihah.)
” Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.
” Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.
” Dilarang tidur tertelungkup dandibiasakan •tidur dengan miring ke kanan.
” Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.
” Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya.
” Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.
” Dilarang bermain dengan hidungnya.
” Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.
” Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.
” Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan.
” Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.
” Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.
” Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.
” Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.
” Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.
” Dibiasakan membaca “AZhamdulillah” jika bersin, dan mengatakan
“Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”.
” Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara.
” Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.
” Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak).
” Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.
” Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan.
” Tidak membuang sampah dijalanan, bahkan menjauhkan kotoran darinya.
” Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya.
” Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.
” Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan.
” Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela, jika memungkinkan. Tapi kalau tidak, dipaksa untuk menerima kebenaran, karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel.
” Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.
” Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.
” Ditanamkan kepada anak agar senang pada alat permainan yang dibolehkan seperti bola, mobil-mobilan, miniatur pesawat terbang, dan lain-lainnya. Dan ditanamkan kepadanya agar membenci alat permainan yang mempunyai bentuk terlarang seperti manusia dan hewan.
” Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri.
bersambung insya Allah..
sumber : Website “Yayasan Al-Sofwa”
www.alsofwah.or.id

Label:

Introspeksi Dalam Kajian Psikologi Agama

PENDAHULUAN
Ada sebuah ungkapan terkenal di kalangan orang-orang kerohanian, bahwa dalam diri manusia ada “ruang kosong” yang harus diisi dengan hal-hal yang baik. Jika kita tidak mengisi dengan hal-hal yang baik, maka ruang kosong itu, akan terisi dengan sesuatu yang buruk. Ruang kosong itu yang menjadikan manusia berarti secara spiritual. Ruang kosong itu dikenal dengan hati nurani atau suara hati.
Dalam Islam istilah suara hati sering menggunakan qalb, fu`âd, lûbb, sirr, `aql, yang semuanya berhubungan dengan pengertian kesadaran, atau biasa disebut "hati" (qalb) saja, dari kata qalaba yang berarti "membalik" dengan konotasi berpotensi bolak-balik: di suatu saat merasa senang, dan di saat lain merasa susah, di suatu saat menerima, di saat lain meolak. Hati seringkali tidak konsisten, sehingga dibutuhkanlah kekuatan yang tetap yaitu cahaya Ilahi (disebut "hati-nurani" --hati yang bercahaya).
Imam al-Ghazali --seorang teolog besar Muslim abad 12-- membahas masalah suara hati dalam salah satu bab husus dalam bukunya yang sangat populeh Ihya’ Ulum-i al-Din. Dalam buku tersebut, al-Ghazali menjelaskan “hati” sebagai acuan yang harus dikembangkan dalam pencapaian kehidupan rohani. Bahkan ia menafsirkan hati sebagai esensi dari kemanusiaan itu sendiri. Ia membandingkan hati dengan sebuah kaca yang mencerminkan segala sesuatu di sekelilingnya. Jika hati ada dalam situasi yang kacau, di mana akal-budi (`aql) yakni potensi yang dapat mengembangkan suara hati ini ditaklukkan dan tak dikenali, maka hati menjadi “mendung dan gelap” (artinya orang mengalami perasaan-perasaan negatif, akibatnya menjadi kurang cerdas secara emosi, yang biasa disebut "penyakit hati").
Sebaliknya jika keseimbangan yang benar ditegakkan, kaca hati tersebut akan mencerminkan kecemerlangan bidang rohani, dan dengan demikian terbukalah sifat-sifat langit, dan terpantullah akhlak Allah. Sesuai dengan Hadits Nabi, “Hiasilah dirimu dengan akhlak Allah”. Melalui dzikir kepada Allah, dan terhiasinya sifat-sifat positif dari akhlak-Nya, maka suara hati ini (kesadaran moral) pun mencapai apa yang dalam agama disebut “jiwa yang tenang” (nafs al-muthmainnah) yang membuka pintu bagi kedekatan kepada Allah. Sehingga hati menjadi tempat bagi ingatan akan Allah, akhirnya hati ini menjadi cahaya Allah.
                 •           •                      ••      
35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[1039], yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)[1040], yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Islam menyebut bahwa melalui hati inilah manusia menemukan kesadaran ketuhanannya --yang nantinya akan mempunyai segi konsekuensial pada kesadaran moral dan sosialnya. Kesadaran yang disebut ketakwaan ini tumbuh dalam hati; sebaliknya dosa dan kekafiran juga berkembang dalam hati. Dalam hati juga merupakan tempat menilai diri sendiri (introspeksi). Untuk memahami fungsi suara hati senbagai tempat introspeksi, kita perlu melihat terlebih dahulu konsep teologis Islam mengenai manusia dan kaitannya dengan pembinaan suara hati ini.


PANDANGAN TENTANG MANUSIA DAN PEMBINAAN HATINURANI
Islam menegaskan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Menurut Islam manusia dilahirkan dalam fitrah yang suci. Sehingga seorang bayi, hidup dalam alam paradiso (kalau mati langsung ke surga). Dalam perkembangan selanjutnya. --dalam istilah keagamaan-- karena kelemahannya sendiri, sang bayi yang tumbuh pelan-pelan menjadi dewasa ini lalu tergoda, karena tarikan kehidupan dunia, sehingga sedikit demi sedikit ia masuk ke alam inferno: “neraka dunia” (metafor untuk mereka yang menjauhi diri dari suara hatinya yang suci). Karena dosanya hatinya pun menjadi kotor. Kemudian dalam suatu keadaan yang disebut penyucian, seorang manusia dilatih kembali untuk lepas dari inferno-nya, dari neraka dirinya. Inilah proses ke alam porgatorio, alam pembersihan diri, dimana dari sini akan terbuka kembali alam kefitrahannya, yang pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam kefitrahan ini: keadaan suara hati sejati yang ada dalam kecemerlangannya. Sebenarnya fitrah ini bukanlah sesuatu yang didapatkan, tetapi sesuatu yang “ditemukan kembali” –itu sebabnya istilah yang dipakai (seperti misalnya dalam Idul Fitri) adalah “kembali ke fitrah” yang secara simbolik artinya adalah merayakan kembalinya diri kita ke alam paradiso –surga diri, alam kefitrahan manusia, "kembali kepada kecemerlangan suara hati"; asal dari penciptaannya. "Maka hadapkanlah wajahmu benar-benar kepada agama; menurut fitrah Allah yang atas pola itu Ia menciptakan manusia. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah, itulah agama yang baku; tetapi kebanyakan manusia tidak tahu."(Q.s.al-Rûm/30:30).
Lawan dari fitrah adalah dosa. Al-Qur'an menyebut orang yang berdosa sebagai zhâlim –yang sudah menjadi bahasa Indonesia, zalim, lalim-- dan sering diterjemahkan dengan arti aniaya. Secara harafiah, zhâlim artinya orang yang menjadi gelap. Dosa dalam bahasa Arab, zhulmun, kegelapan, artinya membuat hati yang gelap (suara hati yang tertutup). Kalau seseorang banyak berdosa, maka hati (suara hati)-nya tidak lagi bersifat nûrânîy (bersifat cahaya [bandingkan istulah bahasa Indonesia suara-hati [kata-hati] dengan hati-nurani ini, yang sama-sama sering dipakai sebagai terjemahan dari conscience]), tetapi sudah zhulmânîy.
Kata zhulmâni ini memang belum merasuk dalam bahasa Indonesia, padahal artinya sangat penting untuk disadari, sebagai lawan dari nurani (yang bercahaya itu), supaya kita tahu bahwa tidak semua orang itu mempunyai hati nurani atau suara hati. Hanya orang baik saja yang mempunyai hati nurani --hati yang bercahaya, suara hati; orang jahat hatinya tidak lagi nûrânîy, tapi sudah menjadi zhulmânîy, menjadi gelap, sehingga tidak lagi peka terhadap apa itu baik dan buruk, benar dan salah. Dalam keadaan gelap inilah (suara hati yang tidak lagi berfungsi) ada kesengsaraan, muncullah malapetaka kerohanian, akibat ketidaktahuan diri (ignorance). Orang yang berdosa adalah orang yang tidak mengenal dirinya, orang yang lupa akan dirinya. Orang yang membungkam suara hatinya,untuk menyenangkan hawa-nafsunya.
Ada Hadits "Barang siapa yang tahu dirinya, maka dia tahu Tuhannya". Hadits ini mengungkapkan bahwa ada orang yang tahu diri, dan ada orang yang lupa diri. Memang, tidak berarti bahwa tahu diri, berarti tahu Tuhan, tapi ini penting untuk suatu simbolisasi, tentang siapa diri kita ini, yang bisa kita kenal melalui introspeksi atau mawas diri (ihtisâb). Dengan itu kita akan mengalami peningkatan kualitas kemanusiaan kita sedemikian rupa, sehingga kita seolah-olah tahu Tuhan (yang dalam bahasa agama disebut ihsân). Dalam orang yang ihsân inilah ada kecemerlangan suara hati.
Konsep fitrah dalam Islam pada dasarnya menyangkut konsep tentang manusia yang utuh secara keagamaan: seseorang yang suara hatinya berfungsi secara optimum. Jika manusia merindukan fitrahnya --merindukan suara hati sejatinya-- maka sebenarnya ini adalah kerinduan manusia kepada “kesempurnaannya”. Agama menyebut, manusia akan utuh, apabila dia mencerminkan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya, apabila dia memenuhi perintah Allah. Sebaliknya, bagi orang yang lupa kepada Tuhan, maka dia tidak mungkin akan menjadi manusia yang utuh. Dia menjadi manusia yang “terpecah” dari akar primordialnya --kefitrahannya-- yang menjadikan suara hatinya pun tidak berfungsi.
Allah memperingatkan, "Dan janganlah kamu seperti mereka yang lupa kepada Allah, maka Allah membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri." Kalau manusia lupa kepada Allah, maka manusia akan lupa kepada diri sendiri (dengan mulai mengabaikan suara hatinya sendiri); dan akibatnya akan kehilangan makna dan tujuan hidup: kehilangan integritas kepribadiannya yang sebabnya adalah karena ketidakmauan manusia mengkaitkan dirinya pada wujud dengan wujud Yang Maha Tinggi, yaitu Allah s.w.t.
Maka manusia yang utuh, adalah manusia yang sanggup membina hubungan dengan Allah, dan ini adalah fitrah manusia. Fitrah adalah seluruh ajaran yang benar yang telah ditanamkan Allah ke dalam diri manusia. Tetapi walaupun manusia telah diberi fitrah –yang menjaga kemanusiaannya itu—manusia pada dasarnya lemah, artinya gampang sekali jatuh kepada dosa, yang dapat menjauhkannya dari kefitrahannya itu. Rumusan ajaran Islam mengenai ini adalah bahwa “Manusia itu pada dasarnya baik, tapi lemah,” Al-Qur’an menyebut, "Manusia diciptakan dalam keadaan lemah". Dan di antara banyak kelemahan manusia yang paling penting adalah pandangannya yang pendek, myopic, yang menjadikannya gampang menjauh dari kondisi fitrah, dan mudah tergelincir dari suara hatinya yang benar. Inilah awal mula tumbuhnya ego manusia.
EGO MANUSIA: TEMPAT DOSA DAN GANGGUAN KEJIWAAN
Diatas dikatakan, bagi manusia beragama, hati adalah tempat pertemuan antara Allah dan manusia (ini membenarkan pandangan bahwa "suara hati adalah suara Allah"). Tetapi dewasa ini, ego manusia --sebagaimana diekspresikan secara lebih penuh dalam kepribadian manusia-- telah mengganti hati yang dulu adalah tempat pertemuannya dengan Allah, sekarang menjadi tempat perjumpaan manusia dengan dirinya sendiri. Manusia menjumpai dirinya yang juga merupakan kaca refleksi baginya. Manusia, akibat egonya yang begitu berkembang, tetapi sekaligus menumpulkan hatinya, akhirnya menjadi tertutup dari Tuhan. Bahkan mengingkari perlunya relasi dengan Tuhan itu, untuk kebaikan dirinya.
"Ego tanpa iman" inilah yang melepas dan mengabaikan perjanjian sakral, perjanjian primordial manusia dengan Tuhannya untuk selalu ingat kepadanya: selalu mengikuti suara hatinya yang otentik. Kepercayaan sakral antara manusia yang tersimpan dalam jiwa primordialnya --dalam suara hatinya-- telah dirusak atau ditutupi oleh ego manusia, yang tidak lagi punya minat untuk melihat Allah lewat mata iman dan kepasrahan. Inilah yang menyebabkan mengapa ajaran Islam menekankan pentingnya iman dan kepasrahan (islâm dalam arti generik) dan kesaksian terhadap kebenaran (ihsân) . Tanpa benang kepercayaan sakral dalam dirinya --pengakuan akan adanya Tuhan-- manusia akan menderita. Bahkan bisa-bisa ia tidak memiliki kepercayaan terhadap manusia lain, bahkan pada saatnya kepada dirinya sendiri. Tanpa hubungan yang jelas dan terbuka yang mengarah ke dalam jiwa, dan selanjutnya melampaui jiwa ke arah ruh, manusia tidak akan memiliki cukup hasrat untuk menghubungkan dirinya dengan Diri yang lebih besar: sumber otentisitas dirinya, suarahatinya.
Lewat perhatiannya yang terlalu besar kepada ego, kelekatan manusia kepada Allah telah digantikan oleh kelekatan kepada dunia bentuk dan dunia kepemilikan. Manusia tidak lagi berupa sebuah buku terbuka yang menanti guratan Pena Ilah, untuk mengerti arti dan tujuan hidupnya --yang dapat disadari lewat kepekaan atas suara hatinya. Karena ia mengingkari pertemuannya dengan Penciptanya, dan karena itu mengingkari janji masa depan baginya di dunia akhirat. Ia menjadi sebuah sistem tertutup, yang telah ditentukan bukan oleh Allah, melainkan oleh gerakan aneh ego yang selalu berubah (ingat mengenai hati yang "bolak-balik" di atas). Kecerdasannya (sebagai makhluk yang berakal budi dan terarah kepada alam ruhani) telah direduksi menjadi hanya pencari fakta dan sekumpulan data. Adanya alam keruhanian termasuk suara hati ditolak sebagai ilusi.
Dengan dosanya manusia terperangkap dalam sekumpulan ilusi ini, yang diabadikan oleh ego yang senang mengabdi hanya pada diri sendiri, dan karenanya mereduksi jiwa percaya-diri dari orang-orang yang beriman, menjadi sekedar bayangan ego (ketimbang refleksi Ruh Ilahi). Ilusi ini berakar dari kepercayaan yang salah bahwa dirinya mampu merealisasi dan memfungsikan keberadaannya sendiri di dunia ini tanpa dukungan dan berkah Allah (tanpa perlu suara hatinya!). Ego menciptakan ilusi, dan ilusi memuaskan ego dalam mengabadikan lingkaran realitas palsu yang menantang Kebenaran primordial manusia yang tertanam dalam suara hatinya. Itu sebabnya, pada dasarnya iman tumbuh dalam hati, tetapi ego manusia bisa menyelewengkannya kepada keraguan, penyangkalan, kekafiran dan penyelewengan dari jalan yang lurus (shirâth al-mustaqîm).
TAKWA: JALAN MENYUCIKAN HATI
Kata takwa, seringkali karena sudah menjadi bahasa sehari-hari taken for granted, dianggap jelas artinya. Dan pada umumnya arti ketakwaan dihubungkan dengan rasa takut kepada Allah. Fenomenologi agama, menggambarkan pengertian takwa ini sebagai Misteri yang “menggetarkan” (tremendous). Allah menggetarkan hati manusia, karena Kemahakuasaannya. Banyak ayat dalam al-Qur’an yang menggambarkan mengenai kemahakuasaan Tuhan ini. Sadar akan kemahakuasaan Tuhan ini, manusia merendahkan diri untuk menaati segala perintahnya. Inilah yang sering dianggap sebagai manifestasi dari takwa itu.
Pengertian takwa seperti ini sebenarnya belumlah lengkap, karena terlalu menekankan aspek ketakutan dihadapan Allah. Dalam penafsiran yang sering diungkapkan oleh para fuqaha (ahli hukum agama), dalam arti ketakwaan merupakan kontrol yang paling efektif terhadap perbuatan dosa. Ketakwaan menjadi dasar moral. Tetapi para Sufi menganggap bahwa tingkat keberagamaan karena rasa takut itu, masih rendah, belum diolah dengan menumbuhkan perasaan-perasaan positif kepada Allah --misalnya lewat kedekatan seseorang dengan suara hatinya. Kedekatan kepada Allah terlalu dirasakan sebagai emosi takut. Para Sufi mempertanyakan, apakah ini adalah kedekatan? Kedekatan kepada Allah –taqarrub ila Allâh—tidak bisa dicapai lewat perasaan negatif, justru harus lewat perasaan positif. Lewat perasaan positif ini kedekatan itu bisa dirasakan secara luarbiasa. Perasaan positif inilah yang dirasakan jika seorang yang beriman mempunyai kontak otentik dengan suara hatinya.
Pada dasarnya, segala amalan-amalan dalam agama bertujuan untuk mendidik mereka yang beriman –yang menaruh percaya kepada Allah—agar memiliki pengalaman dan kesadaran Ketuhanan (bdk. Suara Allah adalah suara hati), dengan menanamkan kesadaran Ketuhanan itu sedalam-dalamnya, dalam kehidupan sehari-hari. Agama menyebut ini sebagai pengalaman dalam mencapai derajat ketakwaan. Kesadaran Ketuhanan ini begitu mendasar dalam agama apapun, sebab pengalaman inilah yang akan membimbing manusia ke arah kebajikan dan amal saleh, suara hatilah yang dapat membawa dan membimbing manusia kepada kebahagiaan.
Disebutkan dalam Kitab Suci al-Qur’ân, bahwa takwa –kesadaran Ketuhanan yang mendalam seperti digambarkan di atas-- merupakan asas bangunan kehidupan yang benar. Asas bangunan kehidupan selain takwa dalam istilah agama “bagaikan fondasi gedung di tepi jurang yang goyah, yang kemudian runtuh ke dalam neraka". Al-Qur’ân menguraikan soal ini, “Manakah yang terbaik? Mereka yang mendirikan bangunannya atas dasar takwa dan keridlaan Allah, ataukah yang mendirikan bangunannya di atas tanah pasir di tepi jurang lalu runtuh bersamanya ke dalam api neraka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka yang zalim” (Q.,s. al-Tawbah/9:109). Ayat ini menegaskan arti takwa dalam seluruh struktur agama Islam. Ada juga sebuah Hadîts Nabi, yang menggambarkan begitu menentukannya takwa ini, dikatakan, “Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti (moral yang) luhur”.
Terhadap ayat yang menggambarkan metafor takwa di atas--yang kedudukannya sangat prinsipil dalam agama Islam-- Abdullâh Yûsûf `Alî, salah satu mufasir terkemuka abad ini, memberi komentar, “…Orang yang membangun hidupnya atas dasar ketakwaan (yang berarti juga keikhlasan dan niat hati yang suci) dan harapannya hanya kepada keridlaan Allah, ia membangun di atas fondasi batu yang kuat, yang takkan pernah goyah. Kebalikannya dari orang yang membangun di tanah pasir di tepi jurang, yang tidak terlihat bawahnya yang sudah rapuh. Jurang dan fondasi-fondasi itu semua akan runtuh berkeping-keping bersama dia, dan dia tersungkur ke dalam api kesengsaraan, yang tak mungkin lagi dapat melepaskan diri.” Metafor ini menggambarkan bahwa orang jauh dari takwa, adalah orang yang jauh dari suarahatinya!
Di sini perkataan takwa memang diterjemahkan sinonim dengan "kesadaran Ketuhanan," yang aslinya dalam bahasa al-Qur’ân disebut "rabbânîyah" dan "ribbîyah". Kesadaran ketuhanan ini merupakan wujud terpenting dari nilai keagamaan --yang sudah seharusnya selalu menjadi dasar dari usaha-usaha apapun, yang mau menyajikan Islam sebagai sumber keinsyafan hidup misalnya lewat pembinaan suara hati. Dan di sinilah dalam konteks penyajian Islam sebagai sumber keinsyafan hidup itu --sumber moral dan suara hati-- al-Qur`an dinyatakan --oleh al-Qur’ân sendiri-- sebagai petunjuk bagi mereka yang bertakwa. “Inilah Kitab yang tiada diragukan; suatu petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Q.,s. al-Baqarah/2: 2. Lagi, Abdullâh Yusuf `Alî memberi komentar, terhadap ayat ini: bahwa al-taqwâ, serta kata-kata kerja dan kata-kata benda yang dikaitkan dengan akar kata ini, berarti (1). Takut kepada Allah –yang menurutnya, seperti dikatakan penulis Surat Amsal (1:7) dalam Perjanjian Lama, merupakan permulaan kearifan. [jalan kepada suara hati yang otentik]; (2). Menahan atau menjaga lidah, tangan dan hati dari segala kejahatan; (3) Ketaatan dan dan kelakuakn yang baik (Lihat Qur’ân, Terjemah dan Tafsirnya, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993 h.17 catatan 26).
INGAT KEPADA ALLAH
Dalam struktur agama Islam, salah satu usaha menumbuhkan dan menanamkan kesadaran Ketuhanan --dengan begitu menumbuhkan juga sekaligus kepekaan suara hati-- itu ialah lewat dzikir (dzikr), yaitu sikap selalu ingat kepada Tuhan. Kaum yang beriman yang berpikiran mendalam (ulû al-albâb) ialah mereka yang senantiasa berdzikir, bersikap selalu ingat kepada Allah, "pada saat berdiri, duduk atau terbaring, serta merenungkan kejadian langit dan bumi”. Al-Qur’ân sendiri menyebut ingat kepada Allah ini sebagai “amalan keagamaan yang paling agung” seperti dikatakan Q.,s. al-`Ankabût/29:45, yang akan membawa kepada pengalaman ketuhanan, rasa kehadiran: sumber moral (suara hati).
Bahwa Allah adalah Wujud Yang Maha Hadir ini –karena Dia Dekat dengan manusia--dijelaskan dalam Kitab Suci: "Dan bila para hamba-Ku bertanya kepada engkau (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah Maha Dekat. Aku menjawab seruan orang berseru, jika ia memang berseru kepada-Ku” (Q.,s. al-Baqarah/2: 186). Juga penegasan-penegasan lain dalam Kitab Suci seperti, "Dia beserta kamu sekalian di manapun kamu berada, dan Allah Maha Melihat segala sesuatu yang kamu kerjakan” (Q.,s. al-Hadîd/57:4); atau, "Milik Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadapkan wajahmu, di sanalah Wajah Allah,” (Q.s., al-Baqarah/2:115) "Kami (Allah) lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya” (Q.,s. Qâf/50:16), atau "Ketahuilah olehmu sekalian bahwa Allah menjadi dekat antara seseorang dengan hatinya sendiri (Q.,s.al-Anfâl/8:24).
Ayat-ayat tersebut sebenarnya menegaskan bahwa pada dasarnya manusia tidak dapat menghindar dari Hadirat Ilahi. Kesadaran akan Kehadiran Tuhan itu sesungguhnya merupakan inti hakikat kemanusiaan --kesadaran itu merupakan kelanjutan hakikat primordial manusia, fitrahnya, yaitu manusia sebagai makhluk dalam alam ruhani (yang tanpa ruang dan waktu) sebelum dilahirkan kedunia. Yaitu hakikat kemanusiaan yang telah mengikat perjanjian primordial dengan Tuhan, berwujud persaksian bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang boleh dan wajib disembah, yang adalah Rabb, Pelindung, Pemilik dan Penguasa. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari anak cucu Adam –dari punggung-punggung mereka—keturunan mereka dan dimintakan saksi atas mereka: ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar Kami bersaksi’ Demikianlah agar kamu (tidak) berkata pada hari kiamat: Sesungguhnya kami lupa akan hal itu.” (Q., s. al-A`râf/7:172).
Menarik sekali, bahwa dalam penafsiran tentang perjanjian primordial ini, akan menghubungkan kita kembali pada konsep fithrah, seperti digambarkan dalam ayat dari Q.,s. al-Rûm/30:30, “Maka hadapkan wajahmu kepada agama dengan penuh minat kepada kebenaran, sesuai dengan fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu…” Filsafat menyebutnya manusia-fitrah tersebut sebagai “makhluk teomorfis,” (makhluk yang mempunyai naluri ketuhanan) seperti dikemukakan di atas. Itu sebabnya dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk yang bersifat Ilahi (manusia citra Ilahi, insân kâmil), dalam arti bahwa ia adalah makhluk yang menurut tabiat dan alam hakikat primordialnya selalu mencari dan merindukan Tuhan: berkecenderungan kepada pencarian suara hatinya. Ini adalah fitrah atau kejadian asal sucinya, yaitu kecenderungan alami yang merupakan sifat dasar manusia untuk senantiasa merindukan, mencari, dan menemukan Tuhan. Agama Islam selalu mengacu ini sebagai hanif. Dan Kebenaran yang mengajarkan sikap tunduk kepada Tuhan (dîn) dan pasrah (islâm) kepada-Nya itu, merupakan kelanjutan fitrah yang hanif tersebut. Ibn ‘Abbâs --seorang sahabat Nabi--menuturkan bahwa Nabi s.a.w. ditanya, “Agama (dîn) mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al hanîfîyat al samhah)” (Hadîts, riwayat Imam Ahmad).
Konsep-konsep fundamental ini: fithrah, din, hanif, islam, dalam ajaran Islam, merupakan ajaran kearifan yang abadi, yang disebut sebagai philosophia perennis, atau hikmah khalidah –hikmah yang tak kunjung lekang oleh ruang maupun waktu: sebuah ajaran agama yang bersifat sangat universal, karenanya berlaku sepanjang zaman. Dan merupakan fondasi teoretis dalam pengembangan suara hati.
Setelah kita sedikit melihat mengenai dosa yang menjauhkan manusia dari suara hatinya. Berikut kita akan melihat lebih mendalam efek dari dosa yang merusak suara hati, setelah kita melihat mengenai ego manusia sebagai sumber pertama dosa manusia.
DOSA: MERUSAK HATI NURANI DAN MENIMBULKAN GANGGUAN KEJIWAAN
Seperti sudah dikatakan, awal dari hidup yang menjauh dari kefitrahan, adalah hidup dalam dosa yang dapat merusak suara hati, yang dapat diibaratkan seperti "asap gelap yang membumbung ke atas" pada cermin hati. Asap itu terus membumbung diatasnya hingga hati menjadi gelap dan hitam, sepenuhnya tertutup dari Tuhan. Sehingga manusia tidak lagi dapat mendengar suara Tuhan, sebagai suara hatinya. Tuhan menyebut penutupan ini sebagai "kerak". Tuhan berfirman, "…kebiasaan mereka itulah yang telah menimbulkan kerak dalam hati" (Q., s. al-Muthaffifîn/83: 14). Kerak inilah yang menutup hati manusia, akibat dosa-dosanya., "Kalau kami menghendaki, akan Kami siksa mereka dikarenakan dosa-dosanya, Kami tutup hatinya sehingga tidak lagi mereka mendengar pelajaran" (Q.,s. al-A`râf/7:100).
Jika dosa-dosa menumpuk, suara hati pun menjadi tertutup, selanjutnya hati menjadi negatif dan buta sehingga tidak dapat melihat yang nyata, juga tak bisa melihat kebenaran agama. Ia menganggap urusan akhirat dan keruhanian itu tidak penting, dan menekankan pentingnya urusan dunia ini ("hal-hal yang sementara"). Al-Qur'an menyebut, mereka adalah orang-orang "yang telah putus asa terhadap pahala-pahala akhirat, sebagaimana putus asanya orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur" (Q., s. al-Mumtahanah/60: 13).
Suara hati itu tertutup karena adanya "penghitaman hati" melalui dosa-dosa, sebagai mana sudah disebutkan. Maymûn ibn Mahrân berkata, (mengutip Nabi), "jika seseorang hamba melakukan suatu dosa, sebuah titik hitam muncul dalam hatinya. Jika dia bertobat menarik diri, dan mohon ampun, titik itu terhapus. Jika ia kembali, titik hitam itu bertambah hingga ia menutupihatinya. Itulah'keraknya'-nya."
Nabi berkata bahwa suara hati orang yang beriman itu terang, sebuah lampu bersinar di dalamnya (ingat ayat tentang cahaya di atas), sementara suara hati orang kafir itu “hitam dan bolak-balik”. Mematuhi Tuhan dan melawan nafsu akan membersihkan suara hati, sementara melakukan tindak-tindak pelanggaran akan menghitamkannya. Jika seseorang berpaling pada tindak-tindak pelanggaran, suara hatinya akan berubah menjadi hitam. Jika seseorang melakukan suatu perbuatan jahat, tetapi juga berbuat baik suara hatinya tidak menjadi gelap, namun cahayanya berkurang. Seperti sebuah kaca yang di hadapannya ada seseorang yang bernafas. Lalu dia menghapuskannya dan bernafas lagi. Lalu dia menghapuskannya lagi. Kaca itu tidak akan sepenuhnya bersih dari keburaman.
Itu sebabnya pengetahuan mengenai hati manusia--mengenai suara hati ini--merupakan kunci menuju pengetahuan tentang Tuhan. Maka benar: "suara hati, adalah suara Tuhan".
Al-Qur’an menggunakan istilah qalb untuk yang kita sebut suara hati ini sebanyak 132 kali. Makna dasar dari kata itu adalah membalik, kembali, pergi, maju, mundur, berubah, naik turun, mengalami perubahan. Al-Qur’an menggunakan istilah suara hati ini dengan menunjuk pada pentingnya dalam diri manusia, dalam menumbuhkan kesadaran moral. Sebab suara hati adalah tempat bersemainya kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan. Orang beriman maupun orang yang kafir sama-sama mempunyai suara hati. Al-Qur’an menggambarkan suara hati sebagai lokus dari apa yang membuat seseorang manusia menjadi manusiawi, pusat dari kepribadian manusia. Dan karena manusia terikat erat dengan Tuhan, maka hati ini merupakan tempat dimana mereka --seperti dikatakan di atas—dapat bertemuTuhan.
Pertemuan tersebut akhirnya mempunyai dimensi rasional, dan berimplikasi kepada penumbuhan moral atau budi pekerti luhur. Di sinilah kita perlu melihat apa yang bisa membuat suara hati itu cemerlang, dan apa yang membuat hati itu "menjadi gelap" --sehingga suara hatinya tidak lagi terdengar. Sekarang kita bicara mengenai nafs (jiwa manusia), sebagai teori Sufi yang berkaitan dengan penumbuhan atau penemuan kembali suara hati.
Salah satu cara untuk menjaga kesucian suara hati, adalah dengan menjaga diri dari hawa nafsu. Hawa nafsu berasal dari perkataan bahasa Arab, hawâ al-nafs, artinya keinginan diri sendiri. Dalam bahasa yang lebih kontemporer, keinginan diri sendiri ini dapat kita sebut sebagai kecenderungan-kecenderungan subjektif-egoistis. Karena itu hawâ al-nafs- lebih dekat dengan arti vested interest. Sehingga menyatu dengan kepentingan manusia, keinginan diri sendiri dan sering tidak bisa dilihat secara objektif benar-salahnya. Bahkan manusia lebih sering menganggap apa yang diinginkan itu pasti benar. Di sinilah muncul persoalan hawa nafsu, yang dalam kerendahkannya --dalam arti moral-- sangat merusak kepekaan suara hati dalam melihat yang benar dan salah.
Dalam al-Qur'an surat Yûsûf dikatakan bahwa nafsu pada dasarnya mendorong kepada keburukan. Di situ terdapat istilah al-nafs-u al-`ammârah, yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah nafsu amarah. Tetapi, seperti dijelaskan dalam lanjutan ayat tersebut, "... kecuali nafsu yang dirahmati oleh Tuhanku". Jadi nafsu sebetulnya bisa juga mendorong kepada kebaikan kalau mendapat rahmat dari Allah. Di sini nafsu berperan sebagai sumber motivasi, sumber dorongan kepada penemuan kembali suara hati, kondisi primordial manusia yang fitrah. Ia mempunyai nilai positif, karena mendapatkan rahmat dari Allah s.w.t. Indikasinya adalah orang bernafsu untuk melakukan sesuatu yang baik, yang menuju ridla Allah. Orang yang berjuang (mujâhadah)kepada jalan yang benar : mencari suara hatinya
Kalau orang itu tidak mendapat rahmat dari Allah, maka nafsunya akan membuatnya buta, tidak tahu lagi baik dan buruk, benar dan salah. Suara hatinya tertutup. Mereka kehilangan kepekaan suara hati (nurani), dan menggantinya dengan menuhankan hawa nafsunya (awal dari sikap tiranik, yang muncul dari penuhanan hawa-nafsu/vested-interest). Karena itu Allah berfirman, "Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, sebab itu menyimpangkan kamu dari jalan Allah." Jadi ada korelasi antara hawa nafsu dengan jauh dari jalan Allah --jauh dari suara hati. Sebab, setiap orang mempunyai potensi --yang bisa disebut bertindak tiranik-- yaitu ketika dia melihat dirinya cukup, tidak perlu orang lain. Setiap orang punya potensi untuk menganut gaya hidup egoistis-individualistis; kehilangan kesadaran sosial. Tetapi, orang yang beriman tidak akan bertindak tiranik. Ia pasti melihat semua manusia sama, semua manusia punya hak dan kewajiban yang sama, serta tidak ada nafsu untuk memaksakan diri.
Kemudian, dalam surat al-Qiyâmah, ada istilah al-nafs-u al-lawwâmah, yakni nafsu yang sudah mengalami proses introspeksi. Kata lawwâmah sebetulnya berarti "banyak mencela" tapi di sini maksudnya adalah mencela diri sendiri. Jadi nafsu lawwâmah adalah gambaran dari orang yang sudah sedemikian intensnya melakukan introspeksi sehingga ia selalu mencari kesalahannya sendiri. Ia mencari otentisitas suara hatinya: Ia mencari suara Tuhan dalam dirinya. Orang boleh bertingkah laku tidak peduli misalnya terhadap lingkungan, terhadap aturan, terhadap nilai-nilai yang baik, tapi sebetulnya hatinya menentang. Artinya orang itu tahu bahwa perbuatannya itu tidak benar, dan pengetahuannya itulah permulaan dari lawwâmah. Dan di sinilah perlunya ihtisâb menghitung diri sendiri sebelum dihitung oleh Tuhan di akhirat nanti. Sebuah Hadits mengatakan,"Hitunglah dirimu sendiri, sebelum kamu dihitung."
Jadi penyebutan al-nafs-u al-lawwâmah itu adalah dalam kaitannya dengan semangat introspeksi, semangat ihtisab: Bagaimana akhir hidup ini? Apa tujuan hidup? Apa yang harus seorang manusia kerjakan? Apa benar semua pekerjaan ini sudah benar, sudah baik? Kalau seseorang jujur sendirian dalam momen-momen keheningan, ia akan merasa bahwa ia tidak benar dan penuh kekurangan. Dan di situlah seseorang mulai melakukan introspeksi. Sehingga suara hati mulai terbuka. Kita mulai bisa sedikit mendengar suara Tuhan.
Setelah melalui proses introspeksi itu, dengan asumsi bahwa seseorang betul-betul konsisten dengan pertumbuhannya, maka sampailah kita kepada al-nafs-u al-muthma'innah, nafsu atau jiwa yang tenang. Istilah ini diambil dari firman Allah, "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati ridla dan diridlai, dan masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku". Inilah puncak dari kebahagiaan sesungguhnya.
HATI NURANI DAN JALAN KEBENARAN
Dalam ilmu agama-agama, dilukiskan bahwa setiap agama menjelaskan dirinya sebagai “jalan” kepada Kebenaran, jalan kepada Tuhan. Jalan kepada suara hati. Semua ritus, simbol dan ajaran keagamaan adalah ekspresi untuk jalan ini. Begitu pula dalam Islam. Ada beberapa istilah al-Qur’an yang dipakai untuk jalan ini, misalnya shirâth, sabîl, syarî`ah, tharîqah (tarekat), minhâj (metodologi, cara), mansak atau manâsik (jamak), dan maslak atau sulûk. Semuanya berarti jalan, cara, metode dan semacamnya. Karena agama itu esensinya berarti jalan, maka beragama haruslah dinamis. Kalau ada sesuatu yang berhenti dijalan, itu menyalahi sifat jalan itu sendiri.
Atas dasar alasan inilah, maka agama tidak mengajarkan bagaimana cara sampai kepada Tuhan: bagaimana mengetahui Tuhan, tetapi justru bagaimana mendekati Tuhan (taqarrub ila Allâh). Itu sebabnya dalam menempuh perjalanan keagamaan, seseorang akan mempunyai pengalaman yang bermacam-macam, yang berbeda-beda. Begitu juga dengan pergumulan macam-macam orang dari berbagai agama dengan suara hatinya.
Setiap orang mempunyai cara untuk mendekati Tuhannya--begitu juga untuk mencari dan menemukan kembali suara hatinya. Cara inilah yang disebut idiom dalam beragama. Setiap orang mempunyai idiomnya sendiri-sendiri sesuai dengan pengalamannya masing-masing, yang banyak sekali macamnya. Pada dasarnya Tuhan itu Maha Hadir (Omnipresence) dalam seluruh alam semesta ini, termasuk dalam diri manusia. Alam itu sendiri, berasal dari bahasa Arab, `alamat-un, yang artinya adalah “tanda”. Alam adalah tanda dari Tuhan –the sign of God. Karena itu semua yang ada adalah pertanda dari Allah, bahkan tajalli atau penampakan diri dari Allah. Al-Qur’an menggambarkan, sebagaimana sudah dikatakan di atas, “Kemanapun kamu hadapkan wajahmu, di situ ada wajah Tuhan” Jika seseorang menyadari Tuhan, maka ia akan menyadari kehadiran Tuhan itu dalam hidup sehari-hari. Menyadari Tuhan berarti peka terhadap suara hati kita sendiri.
Dari apa yang dikatakan di atas, kita simpulkan bahwa ttakwa adalah puncak dan tujuan dari hidup beragama; maksudnya bahwa tujuan beragama adalah agar manusia menyadari bahwa suara hatinya perlu dihidupkan (kembali) dengan kehadiran Tuhan. Apalagi ini adalah sesuatu yang fitrah bagi manusia. Semua agama, menjadikan persoalan ini sebagai inti dari keberagamaan. Dalam Islam ada yang disebut pesan dasar agama (risalah asasiyyah), sebagaimana Hadits Nabi, al-dîn-u nashihah, agama itu adalah nasihat atau pesan. Pesan dasar agama adalah pesan untuk bertakwa, pesan untuk menghadirkan (kembali) dalam jiwa manusia (dalam suara hatinya) adanya Tuhan itu, yang kehadiran itu dapat dirasakan dalam hati. Dan pesan ini begitu universal, sehingga bisa kita temukan dalam setiap agama.
Dalam Islam takwa adalah dasar kemanusiaan. Dalam bahasa teknis: semua bentuk habl-un min al-nâs (hubungan horizontal sesama manusia) dasar moralitas sosial dalam Islam harus didasari oleh habl-un min Allâh (hubungan vertikal dengan Allah). Al-Qur’an menggambarkan bahwa takwa sebagai kriteria paling obyektif untuk dasar hubungan antar individu, suku, bangsa, ras dan agama. Takwa mendorong untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (Q.s.,al-Baqarah/2:148).
Jika ada trilogi ajaran Islam yang sudah dikemukakan di atas–yang merupakan visi dasar agama ini—yaitu islâm, îmân dan ihsân, (jika dibaca sebagai tangga keberagamaan: dari sikap pasrah [islâm], kepada menaruh kepercayaan pada Tuhan [iman, suatu sikap in God we trust, kepada Tuhan kita menaruh percaya]) maka ihsân (pengalaman menyadari kehadiran Tuhan) itu adalah puncaknya. Dan pengalaman keihsanan inilah wujud dalam bentuk yang disebut takwa itu, yang bisa kita katakan sebagai dasar menemukan kemurnian suara hati.
Beberapa poin kesimpulan: Islam meneguhkan bahwa setiap manusia mengetahui yang baik dan yang buruk melalui suara hatinya dan fitrahnya. Ada sebagian orang yang memperhatikan seruan suara hatinya, sehingga mereka berbahagia, dan ada sebagian orang yang tidak memperhatikannya, sehingga mereka celaka. "Sesungguhnya beruntung orang-orang yang menyucikan [suara hati]-nya, dan sungguh merugi orang-orang yang mengotorinya (Q., s. al-Syams/91: 9-10).





DAFTAR PUSTAKA
Al Musawi, Khalil, “Bagaimana Membangun Kepribadian Anda,” Penj Ahmad Subandi (Jakarta : Lentera Basritama: 2001)
Ibrahim, Zakaria “Spikologi Wanita” Penj. Ghazeti Salom (Bandung :Pustaka Hidayah: 2005)
Khumaini,Imam “Memupuk Keluhuran Budi Pekerti” Penj. Musa Kazhim (Jakarta: Misbah : 2004)
Adjeh,Abue Bakar. “Pengantar Ilmu Tarekat (Uraian Tentang Mistik)” (Solo: Ramadhani: 1985)
Attaki, Hanan “Meditasi Al-Qur’an” (Bandung: Attakie :2008)
Safaria, Triantoro dan Kunjana Rahardi “Menjadi Pribadi Berprestasi” (Jakarta: Grasindo: 2006)
Kattsoff, Louis O “Pengantar Filsafat” Penj. Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana: 1992)
Sariati,Ali “Humanisme Antara Islam dan Madzab Barat” Penj. Afif Muhammad (Bandung: Pustaka Hidayah:1992)
Rahmad, Jalaludin :”Reformasi Sufistik” (Bandung: Pustaka HIdayah: 1999)